Seputar Zakat Penghasilan: Hukum, Nisab, dan Cara Menghitung

7 min read

zakat penghasilan

Zakat merupakan salah satu kewajiban kaum muslimin. Rukun zakat termasuk ke dalam rukun Islam, sebagaimana syahadat, shalat, puasa, dan haji. Zakat terbagi menjadi beberapa bagian, salah satunya adalah zakat penghasilan. Para ulama mempunyai perbedaan pendapat mengenai hukum diambilnya zakat dari penghasilan atau profesi dengan beberapa dalil yang menguatkan masing-masing pendapat.

Pada artikel Jurnal Manajemen kali ini akan membahas secara tuntas mengenai Zakat Penghasilan atau sering disebut dengan zakat profesi. Pembahasan akan diulas secara komprehensif dari dasar hukum, perhitungan hingga berbagai contoh kasus. Untuk lebih lengkanya simak pembahasan berikut ini :

Pengertian Zakat profesi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai zakat yang diambil dari penghasilan, ada baiknya bagi Anda untuk mengetahui pengertian dari zakat tersebut. Secara bahasa, zakat mempunyai arti pensucian atau pengembangan. Di satu sisi, zakat bisa mengembangkan harta. Di sisi lain, zakat juga mampu mensucikan orang yang memberikan zakat dari dosa.

Adapun zakat dilakukan dengan mengambil bagian harta yang telah mencapai nishab dan haul untuk diberikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang berhak untuk menerima zakat lainnya. Nishab berarti batasan jumlah, yang mana Anda belum mempunyai kewajiban zakat apabila benda yang akan dizakati belum mencapai jumlah tertentu.

Sementara itu, haul berarti jangka waktu tertentu yang mana standar haul adalah satu tahun. Anda belum wajib untuk mengeluarkan zakat apabila benda yang akan dizakati belum dimiliki selama satu tahun penuh. Mengapa harus menunggu satu tahun? Karena objek zakat tersebut masih mengalami perubahan jumlah, baik bertambah maupun berkurang.

Syarat Zakat

Apa saja syarat yang harus dipenuhi sebelum mengeluarkan zakat? Syarat tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu syarat orang yang mengeluarkan zakat dan syarat objek zakat. Adapun syarat untuk pemberi zakat antara lain baligh, berakal, dan merdeka. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi oleh objek zakat antara lain telah mencapai haul dan nishab.

Apabila pemberi zakat dan objek zakat telah memenuhi persyaratan, maka berlakulah kewajiban zakat tersebut. Zakat penghasilan berapa persen? Kadar zakat yang harus dikeluarkan dari penghasilan adalah 2,5% dari penghasilan bersih. Dalam hal ini, masyarakat sering melakukan kekeliruan yaitu dengan mengambil zakat 2,5% dari penghasilan kotor.

Penting untuk Anda perhatikan, zakat dari penghasilan dihitung setelah dikurangi dengan kebutuhan pokok dan kewajiban-kewajiban Anda seperti membayar keperluan cicilan dan kebutuhan wajib lainnya. Setelah penghasilan kotor dikurangi dengan kewajiban tersebut dan ternyata masih melebihi nishab, berarti kewajiban zakat telah berlaku.

Namun jika penghasilan kotor dikurangi dengan kewajiban dan kebutuhan pokok menunjukkan hasil di bawah nishab, maka Anda tidak wajib untuk membayar zakat. Dengan kata lain, harta yang dizakati merupakan kelebihan harta di luar kebutuhan pokok.

Menurut beberapa sumber, disarankan untuk membayar zakat setiap tahun dan bukan setiap bulan. Salah satu alasannya adalah karena penghasilan bulanan mempunyai kemungkinan naik turun sehingga masih fluktuatif. Dengan menunggu satu tahun, maka Anda akan lebih mudah dalam menentukan perhitungan zakat dari penghasilan.

Hukum Zakat Penghasilan

Berbicara mengenai hukum zakat yang diambil dari penghasilan, terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini. Beberapa ulama memandang bahwa menyalurkan zakat dari penghasilan mendatangkan kebaikan sehingga menganjurkan kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat dari gaji. Adapun penghitungan zakat tersebut dianalogikan dengan zakat hasil bumi atau hasil panen.

Berdasarkan Keputusan Menteri Agama No.15 Tahun 2014 serta Berita Resmi Baznas, zakat gaji dikeluarkan setiap satu tahun dengan nilai yang disetarakan dengan 85 gram emas. Zakat ini diwajibkan karena disamakan dengan zakat mal.

Sementara itu, pendapat lain menyatakan bahwa zakat penghasilan gaji tidak dapat disamakan dengan zakat hasil bumi. Pertama, zakat gaji harus memenuhi haul sementara zakat hasil bumi tidak menggunakan haul karena wajib dikeluarkan segera setelah masa panen. Selain itu, kedua jenis zakat tersebut tidak dapat dianalogikan karena kadar zakat yang digunakan juga berbeda.

Pada zakat hasil panen, kadar yang harus dikeluarkan adalah 1/10 atau 10% apabila proses pengairan dilakukan secara alami dan tidak membutuhkan biaya. Namun jika proses pengairan membutuhkan biaya, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 1/20 atau 5%. Sementara itu, kadar zakat gaji adalah 2,5%. Dari sini, maka zakat hasil panen dan zakat gaji tidak dapat dianalogikan.

Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa zakat gaji harus dikeluarkan setiap bulan dengan analogi sebagaimana zakat panen yang harus dikeluarkan setiap panen adalah kurang tepat. Meskipun demikian, Anda mempunyai kewajiban zakat dari harta yang dimiliki yang nantinya masuk pada perhitungan zakat emas dan perak.

Dengan menganalogikan zakat gaji dengan zakat emas dan perak, maka berlaku haul dan nishab untuk penghasilan tersebut. Berarti, gaji tersebut harus mencapai batas nishab serta telah Anda miliki selama satu tahun. Terlebih lagi, penghasilan yang dizakati juga merupakan sisa dari gaji setelah dikurangi kebutuhan pokok dan kewajiban lain sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Nisab Zakat Penghasilan

Berapakah nishab untuk zakat gaji? Terkait perbedaan analogi antara zakat gaji dengan zakat hasil panen dan zakat gaji dengan zakat emas, maka terjadi pula perbedaan dalam hal nishab. Apabila menganalogikan zakat gaji dengan zakat hasil panen, maka nishabnya adalah 520 kg beras atau 653 kg gabah dan penyaluran zakat dilakukan setiap bulan atau setiap mendapatkan gaji.

Untuk menghitung nishab, maka Anda harus mengkalikan harga beras pada saat itu dengan jumlah nishab zakat gaji yaitu 520 kg. Hasil yang didapatkan merupakan nishab untuk zakat. Apabila penghasilan Anda melebihi jumlah nishab tersebut, maka Anda telah diwajibkan untuk membayar zakat gaji sebesar 2,5%.

Sedangkan yang berpendapat bahwa zakat gaji dianalogikan dengan zakat emas atau perak, nishab yang berlaku adalah 85 gram emas atau 595 gram perak. Untuk mengetahui jumlah nishab, Anda harus mengkalikan harga emas atau harga perak saat masuk haul dengan jumlah nishab yaitu 85 gram untuk emas atau 595 gram untuk perak.

Setelah mendapatkan hasil perhitungan nishab, Anda harus menghitung zakat yang harus dibayar. Apabila jumlah harta yang Anda miliki telah melebihi nishab, kalikan harta tersebut dengan 2,5% sebagai kadar zakat. Hasil yang diperoleh merupakan jumlah zakat yang harus Anda bayarkan.

Adapun haul merupakan batas waktu kepemilikan harta. Standar haul adalah satu tahun sejak Anda memiliki harta tersebut. Apabila harta yang Anda miliki belum melewati masa haul, maka belum berlaku kewajiban zakat. Namun jika harta telah mencapai nishab dan Anda ingin mengeluarkan zakat sebelum haul, maka hal itu dianggap sebagai zakat yang disegerakan.

Perhitungan Zakat Penghasilan

Terkait perhitungan zakat gaji, Anda harus benar-benar memahami cara dalam menghitung jumlah zakat yang harus dibayarkan. Terlebih lagi jika penghasilan bersih Anda cukup besar sehingga dapat dipastikan jumlahnya telah mencapai nishab dan haul. Untuk lebih memahami cara menghitung zakat penghasilan, Anda dapat mempelajari dari contoh-contoh berikut ini.

  1. Gaji Hanya Cukup Untuk Memenuhi Kebutuhan Pokok

Kasus: Anda adalah seorang pegawai dengan gaji bulanan Rp 5 juta. Anda mempunyai tanggungan keluarga yang terdiri dari istri, anak, orang tua, dan saudara. Gaji bulanan yang Anda terima hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan jarang sekali Anda bisa menyisihkan uang untuk simpanan. Bagaimana cara menghitung zakat gaji dengan kondisi tersebut?

Solusi: Terkait kasus di atas, tidak ada kewajiban bagi Anda untuk membayar zakat penghasilan. Alasannya, gaji tersebut sudah habis untuk memenuhi kebutuhan pokok dan keperluan halal lainnya, yang mana merupakan kewajiban bagi Anda untuk menafkahi keluarga.

Namun jika Anda bisa menyisihkan uang sedikit demi sedikit dan simpanan tersebut mencapai nishab, maka Anda juga harus menunggu waktu satu tahun agar memenuhi ketentuan haul. Apabila zakat dikeluarkan sebelum melewati haul, maka Anda mengeluarkan zakat yang disegerakan.

  1. Zakat Untuk Gaji Gabungan Suami Dan Istri

Kasus: Anda dan istri merupakan pegawai yang menerima gaji bulanan. Bagaimanakah cara menghitung zakat gaji? Apakah harta suami dan istri digabung atau keduanya harus mengeluarkan zakat masing-masing?

Solusi: Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa menurut hukum asal, harta suami adalah milik suami namun istri mempunyai hak di dalamnya. Istri berhak untuk dinafkahi dari harta tersebut. Meskipun istri mempunyai penghasilan sendiri, namun kewajiban suami untuk menafkahi tidak hilang. Adapun harta istri dapat digunakan oleh suami dengan syarat istri ridho dengan hal tersebut.

Untuk penghitungan zakat, apabila suami dan istri sama-sama mempunyai penghasilan, maka keduanya harus mengeluarkan zakat secara terpisah. Zakat tersebut disesuaikan dengan jumlah gaji yang diterima oleh masing-masing. Selain itu, haul harta yang dimiliki juga berbeda sehingga waktu pengeluaran zakat mungkin berbeda.

  1. Perhitungan Zakat

Kasus: Anda mempunyai gaji bulanan dengan jumlah yang tetap yaitu Rp 10 juta. Berapakah zakat yang harus dibayarkan ketika dianalogikan menggunakan zakat hasil panen dan zakat emas?

Solusi:

Dengan jumlah penghasilan tersebut, hampir bisa dipastikan bahwa gaji Anda telah memenuhi nishab baik dihitung per bulan maupun per tahun. Berikut ini cara menghitung zakat jika dianalogikan dengan hasil panen, dengan harga 1 kg beras adalah Rp 8.500:

Nishab zakat: Rp 8.500 x 520 = Rp 4,420.000

Zakat: 2,5% x Rp 10.000.000 = Rp 250.000

Berdasarkan perhitungan tersebut, zakat yang harus Anda bayarkan setiap bulan adalah sebesar Rp 250.000. Anda juga bisa memanfaatkan kalkulator zakat penghasilan untuk mendapatkan jumlah zakat yang seharusnya disalurkan.

Namun jika Anda menganalogikan zakat gaji dengan zakat emas, maka perhitungannya adalah sebagai berikut dengan asumsi harga emas per gram adalah Rp 500.000:

Nishab zakat: Rp 500.000 x 85 = Rp 42.500.000

Zakat: 2,5 % x (Rp 10.000.000 x 12) = Rp 3.000.000

Berdasarkan perhitungan di atas, maka zakat yang harus Anda bayarkan setiap tahunnya setelah mencapai haul adalah sebesar Rp 3.000.000. Pada dasarnya jumlah yang harus dibayarkan adalah sama, yang membedakan adalah waktu pembayaran yaitu per bulan dan per tahun.

Adapun cara membayar zakat penghasilan yang kedua dianggap lebih sesuai dengan syari’at dengan alasan yang telah disebutkan sebelumnya. Zakat gaji tidak dapat dianalogikan dengan zakat hasil panen karena kadar zakat keduanya berbeda serta haul yang digunakan adalah per tahun.

Penerima Zakat Penghasilan

Setelah mengetahui jumlah zakat gaji yang harus dibayarkan, Anda mungkin bertanya-tanya siapa yang berhak untuk menerima. Islam mengajarkan kaum muslimin untuk menyalurkan zakat kepada 8 golongan. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat At Taubah ayat 60. Jika Anda bingung mengenai kemana membayar zakat penghasilan, simak penjelasan berikut ini:

  1. Fakir

Golongan pertama yang berhak menerima zakat, baik zakat gaji, zakat mal, maupun zakat fitrah adalah fakir. Orang yang masuk ke dalam golongan fakir adalah mereka yang tidak mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pendapat lain mengenai kaum fakir adalah orang yang mempunyai penghasilan namun tidak mampu memenuhi separuh dari kebutuhannya.

Sebagai contoh, seorang fakir mempunyai kebutuhan per tahun sebesar Rp 12 juta namun penghasilan yang dia dapatkan tidak lebih dari Rp 4 juta per tahun. Golongan fakir berhak untuk menerima zakat demi meringankan beban hidupnya dan berhak untuk diprioritaskan. Jadi, meskipun dia mempunyai pekerjaan, namun penghasilan yang didapatkan sangat tidak mencukupi.

  1. Miskin

Golongan kedua yang berhak menerima zakat penghasilan adalah kaum miskin. Berbeda dengan fakir, golongan miskin mempunyai penghasilan yang dapat memenuhi minimal separuh kebutuhan per tahun. Meskipun memiliki penghasilan, namun uang yang didapatkan belum mampu memenuhi kebutuhan secara penuh.

Sebagai contoh, seorang miskin mempunyai kebutuhan per tahun sebesar Rp 12 juta, sedangkan penghasilan yang dia dapatkan adalah sekitar Rp 6 juta per tahun. Dengan kriteria tersebut, seseorang dikategorikan sebagai miskin.

  1. Amil Zakat

Amil zakat termasuk golongan yang menerima zakat. Meskipun tidak masuk ke dalam kategori miskin, namun amil berhak menerima zakat karena pekerjaannya sebagaimana hadist yang disampaikan oleh Rasulullah. Amil merupakan orang yang mengumpulkan, menjaga dan menyalurkan zakat. Bahkan penggembala hewan ternak yang digunakan untuk zakat juga termasuk dalam kategori amil.

  1. Muallaf

Seperti yang telah kita ketahui bahwa muallaf merupakan orang yang baru masuk Islam dan perlu dilembutkan hatinya. Muallaf yang dianggap masih lemah imannya berhak untuk menerima zakat, dengan tujuan agar zakat tersebut dapat memantapkan hatinya dan menguatkan iman. Bahkan orang kafir yang tertarik untuk memeluk Islam juga termasuk dalam golongan ini.

  1. Hamba Sahaya

Budak berhak menerima zakat untuk membebaskan dirinya. Apabila seorang budak berjanji untuk menebus dirinya dengan membayar sejumlah uang kepada tuannya, maka dia akan terbantu dengan penyaluran zakat. Untuk memerdekakan budak, zakat dapat diberikan kepada budak tersebut atau langsung kepada tuannya.

  1. Orang Yang Terlilit Hutang

Kemana membayar zakat penghasilan yang selanjutnya? Zakat gaji dapat disalurkan kepada orang yang terlilit hutang karena beberapa alasan seperti untuk kemaslahatan dirinya, untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain, atau untuk menjamin hutang orang lain.

  1. Fisabilillah

Zakat penghasilan juga dapat disalurkan di jalan Allah. Sebagai contoh, zakat digunakan untuk berperang di jalan Allah atau untuk kemaslahatan perang. Ulama berpendapat bahwa zakat tidak boleh digunakan untuk pembangunan masjid meskipun hal ini termasuk kemaslahatan agama. Alasannya adalah karena masjid bukan hak milik individu melainkan milik umat.

  1. Ibnu Sabil

Yang dimaksud dengan ibnu sabil adalah orang yang berada di jalan Allah kemudian kehabisan bekal. Orang yang melakukan safar di negeri asing untuk perkara selain maksiat kemudian kehabisan bekal juga termasuk dalam kategori ibnu sabil. Syarat ibnu sabil antara lain muslim dan bukan ahlul bait, tidak mempunyai harta untuk kembali ke tempat asal, melakukan safar di jalan Allah atau tidak untuk maksiat.