Pengertian Pendapatan Nasional : Rumus, Manfaat, Konsep, Distribusi Dll

9 min read

pendapatan nasional

Seperti halnya pada sebuah rumah tangga dan badan usaha, negara juga memiliki istilah sendiri dalam mengartikan pendapatannya. Banyak yang mengukur pendapatan suatu negara dengan perhitungan Pendapatan Nasional.

Apa yang dimaksud dengan Pendapatan Nasional ?

Dilihat dari katanya tentu saja pendapatan nasional merupakan perolehan penghasilan yang diperoleh oleh suatu negara dalam skala nasional. Perolehan pendapatan pada umumnya untuk rumah tangga atau badan usaha meliputi upah, sewa, laba, deviden, tunjangan dan bunga. Kurang lebih pada skala nasional merupakan semua akumulasi tersebut.

Pendapatan nasional sangat penting bagi suatu negara karena bisa menjadi indikator kesejahteraan suatu bangsa. Sebagai contoh Indonesia masuk pada negara G-20 atau masuk ke 20 negara dengan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia.

Oleh karena itu tentunya sangat penting mempelajari menganai pendapatan nasional. Terdapat berbagai manfaat mempelajari pendapatan nasional. Pertama, sebagai indikator kesejahteraan penduduk suatu negara. Kedua, menjadi tolak ukur arah pembangunan nasional. Apabila indikator baik maka bagaimana cara mempertahankannya sedangkan jika indikator menunjukkan sebaliknya maka diusahakan untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Segala hal mengenai pendapatan nasional akan dibahas secara tuntas dan lengkap pada artikel Jurnal Manajemen kali ini. Artikel akan membahas mengenai sejarah pendapatan nasional hingga kondisi pendapatan nasional yang ada di Indonesia saat ini.

Selengkapnya mari kita simak ulasan berikut :

Sejarah Pendapatan Nasional

Istilah dan konsep pendapatan nasional dikemukakan pertama kali oleh Sir William Petty yang berasal dari Inggris. Pada tahun 1665 William Petty mencoba untuk menghitung berapa besar pendapatan negaranya secara nasional.

Pada saat itu dia beranggapan bahwa pendapatan nasional dihitung berdasarkan jumlah dari biaya hidup (konsumsi) masyarakat selama 1 tahun. Akan tetapi anggapan tersebut tidak disetujui oleh para ahli ekonomi modern. Hal ini dilatarbelakangi dari pandangan ekonomi modern yang menyatakan bahwa konsumsi tidak menjadi faktor satu-satunya pada penghitungan pendapatan nasional.

Para ahli ekonomi modern menyatakan bahwa instrumen utama sebagai alat ukur pendapatan nasional adalah Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB). GNP merupakan jumlah produk baik barang atau jasa yang diproduksi oleh suatu negara setiap tahunnya yang diukur berdasarkan harga pasar pada negara tersebut.

Berawal dari peristiwa inilah yang nantinya melatarbelakangi munculnya berbagai cara menghitung pendapatan nasional. Sehingga pada saat ini terdapat berbagai rumus pendapatan nasional yang dapat kita gunakan tergantung dengan indikator penentunya.

Pengertian Pendapatan Nasional

Apa itu Pendapatan Nasional ?

Pengertian Pendapatan Nasional adalah seluruh perolehan pendapatan yang diperoleh seluruh warga negara pada jangka waktu tertentu, secara umum dihitung dalam jangka waktu 1 tahun.

Pendapat lain menyatakan bahwa Pendapatan Nasional merupakan jumlah seluruh hasil produksi oleh masyarakat secara nasional pada periode waktu tertentu (umumnya 1 tahun).

Dilihat dari pengertian pendapatan nasional tersebut paling tidak kita mengetahui 3 poin yang harus menjadi perhatian. 3 Poin tersebut adalah :

  1. Nilai total dari hasil produksi akhir suatu produk (barang/jasa). Hal ini berarti nilai yang dihitung merupakan nilai akhir dari barang dan jasa.
  2. Pendapatan Nasional sebagai bagian dari perekonomian nasional yang menjadi indikator dan batasan penduduk pada suatu negara.
  3. Terdapat periode waktu dalam perhitungannya (1 tahun).

3 Metode Perhitungan Pendapatan Nasional

Pada materi pendapatan nasional hal yang sangat penting diketahui adalah mengenai 3 metode perhitungan pendapatan nasional. Ke tiga pendekatan terebut adalah :

  1. Pendekatan Produksi
  2. Pendekatan Pengeluaran
  3. Pendekatan Pendapatan

Perlu diperhatikan bahwa ketiga pendekatan tersebut memiliki cara pandang yang berbeda terhadap variabel atau komponen pendapatan nasional. Lebih lengkapnya simak ulasan di bawah ini :

Pendekatan Produksi

Berdasarkan pendekatan produksi makan pendapatan nasional diartikan sebagai penjumlahan dari nilai tambah suatu produk/nilai produk jadi pada periode waktu tertentu. Definisi lain mengatakan bahwa pendekatan produk dihitung dengan menggunakan nilai produksi akhir.

Perhitungan pendekatan produksi ditujukan agar tidak terjadi perhitungan ganda atau double karena proses produksi secara umum terjadi secara bertingkat. Maksud dari bertingkat ialah suatu produk berasal dari bahan baku yang kemudian digunakan untuk produksi lanjutan.

Sebagai contoh soal pendapatan nasional adalah :

Petani menjual jagung dengan harga Rp 5000/bonggol. Kemudian jagung tersebut dijual ke suatu perusahaan pakan dan dijual kembali dengan harga Rp 7000. Olahan jagung tersebut dijual kembali ke perusahaan lain dengan harga Rp 10.000 karena diolah kembali dan dikemas dengan lebih baik.

Berdasarkan contoh di atas maka keseluruhan nilai Pendapatan Nasional adalah Rp 10.000. Nilai tersebut adalah nilai akhir dari produk jagung tersebut sekaligus nilai yang sama dari penjumlahan nilai tambah yang ada.

Unit Ekonomi Nilai Tambah Harga
Petani 5000 5000
Perusahaan I 2000 7000
Perusahaan II 3000 10.000
Total Nilai Tambah 10.000

Dari ilustrasi contoh di atas maka diperoleh rumus pendekatan produksi sebagai berikut :

Apabila Y merupakan Nilai Akhir maka :

Pendekatan Produksi 1

Atau apabila memperhitungkan jumlah produksi maka digunakan rumus berikut :

Pendekatan Produksi 2

Dimana

Y              = Pendapatan Nasional

Pn           = Harga Jual Produk Jadi

Qn          = Jumlah Produksi

Pendekatan Pengeluaran

Pada perhitungan pendekatan pengeluraan, pendapatan nasional diperoleh dari jumlah pengeluaran dari Pelaku Ekonomi di dalam maupun luar negeri. Pengeluaran yang diperhitungkan seperti konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan juga selisi antara ekspor dan impor.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa rumus pendekatan nasional menggunakan pendekatan pengeluaran adalah sebagai berikut :

Pendekatan Pengeluaran

Untuk memperoleh informasi menggunakan rumus di atas maka perlu data yang akurat terkait komponen-komponen tersebut.

Pendekatan Pendapatan

Untuk pendekatan yang terakhir yang paling sering digunakan yaitu pendekatan pendapatan. Pendekatan pendapatan dihitung dengan menjumlahkan keseluruhan pendapatan yang diperoleh rumah tangga konsumsi atas hasil kinerja dalam memberikan faktor-faktor produksi (sebagai tenaga kerja atau berdagang/wiraswasta).

Metode pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan terdiri dari beberapa komponen seperti laba, upah, sewa, dan bunga. Selain itu terdapat pula pendapatan dari faktor non-produksi.

Sehingga apabila dirumuskan maka rumus pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan adalah sebagai berikut :

pendekatan pendapatanDalam rangka memperoleh pendapatan secara nasional menggunakan pendekatan ini maka data yang diperoleh ada data terkait perolehan pendapatan rumah tangga masyarakat di suatu negara.

Konsep Pendapatan Nasional

Pada materi pendapatan nasional terdapat beberapa konsep yang harus dan wajib kita ketahui. Konsep ini tidak dapat dipisahkan dari definisi dan cara perhitungan pendapatan secara nasional. Pengetahuan akan konsep ini memudahkan kita dalam memahami dan memperhitungkan pendapatan nasional dari suatu negara.

Setidaknya terdapat 6 konsep pendapatan nasional yaitu :

  1. Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB)
  2. Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)
  3. Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto (PNN)
  4. Net National Income (NNI) atau Pendapatan Nasional Netto
  5. Personal Income (PI) atau Pendapatan Perseorangan
  6. Disposable Income atau Pendapatan Yang Siap Dibelanjakan

Pada setiap konsep terdapat definisi dan perhitungannya masing-masing. Untuk lebih jelasnya simak pembahasannya secara mendetail berikut ini :

Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product merupakan jumlah total produk baik barang atau jasa yang dihasilkan oleh unit-unit ekonomi di suatu negara pada periode satu tahun. Pengertian lain menyatakan bahwa PDB disebut sebagai nilai produk akhir yang diproduksi suatu negara dengan menjumlahkan nilai tambah dan pendapatan selama satu tahun.

GDP/PDB diperoleh tidak hanya dari pendapatan warga negara dalam negeri akan tetapi juga diperoleh dari perusahaan atau warga negara asing yang tinggal atau beroperasi di dalam negeri. Sebagai contoh perusahaan dari Amerika yang memiliki cabang di Indonesia. Hasil produksi atau pendapatannya masuk ke dalam PDB Indonesia.

Berdasarkan ilustrasi di atas maka dapat diketahui bahwa rumus GDP/PDB adalah sebagai berikut :

GDP

Perolehan dan peningkatan GDP ini sangat dipengaruhi oleh faktor ketersediaan sumber daya dan produktifitas.

Sumber daya disini termasuk sumber daya manusia dan sumber daya alam yang tersedia. Ketersediaan sumber daya tidak dipungkiri lagi sangat berdampak langsung terhadap proses produksi. Sehingga jika terdapat hambatan pada ketersediaan sumber daya pasti sangat berefek buruk pada produksi. Oleh karena itu semakin baik ketersediaannya maka proses produksi dan pendapatan yang diperoleh juga akan semakin meningkat.

Sama halnya dengan produktifitas. Peningkatan produktifitas dengan sumber daya yang tersedia juga akan semakin memberikan peningkatan pada pendapatan nasional.

Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) adalah nilai total dari seluruh produk baik barang ataupun jasa yang dihasilkan oleh masyarakat secara nasional baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagai contoh jika ada warga negara Indonesia yang menjadi pengusaha di Jepang. Maka hasil pendapatannya masuk ke dalam GNP/PNB.

Pada intinya GNP ini sangat menekankan pada aspek nationality atau kewarganegaraan. Sehingga apabila disimpulkan maka rumus GNP adalah sebagai berikut :

GNP 1

Atau

GNP 2Atau

GNP 3

Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Netto (PNN)

Produk Nasional Netto atau Net National Product adalah nilai dari Gross National Product setelah dikurangi dengan depresiasi atau penyusutan. Faktor penyusutan pasti terjadi kepada produk khususnya barang yang dihasilkan. Sehingga nilai NNP ini melihat pendapatan nasional dari laba bersih yang diperoleh.

Nilai penyusutan disini biasanya berupa perkiraan sehingga kemungkinan terjadi kekeliruan sangat wajar terjadi meski tidak dominan.

Dari definisi di atas maka rumus NNP adalah sebagai berikut :

NNP

Net National Income (NNI) atau Pendapatan Nasional Netto

Pendapatan Nasional Netto atau disebut juga dengan Net National Income (NNI) merupakan pendapatan yang diperoleh dari Nilai Net National Product (NNP) dikurangi dengan pajak tak langsung dan juga subsidi.

NNI ini diambil dari jumlah balas jasa yang diberikan ke masyarakat sebagai pemilik dari faktor produksi.

Sehingga secara sederhana jika dituliskan ke dalam rumus maka :

NNI

Pajak Tak Langsung wajib dikurangi karena faktor ini tidak masuk ke dalam balas jasa atas faktor produksi. Hal ini sangat normal karena uang pajak sesuai aturan wajib dibayarkan ke pemerintah.

Subsidi harus masuk ke perhitungan karena faktor ini membuat harga lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi sesungguhnya. Contoh subsidi seperti subsidi harga BBM, Pupuk, Bahan Pangan, dll.

Personal Income (PI) atau Pendapatan Perseorangan

Pendapatan nasional juga dapat diperoleh dari pendapatan perseorangan. Perhitunganya adalah dengan menjumlahkan pendapatan setiap orang di masyarakat ditambah dengan pembayaran trasnfer kemudian dikurangi laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan sosial, dan pajak perusahaan.

Adapun rumus Personal Income adalah sebagai berikut :

PI

Adapun pembayaran transfer atau  transfer payment disini  diartikan sebagai seluruh penerimaan masyarakat yang bukan berasal dari balas jasa produksi. Biasanya diambil dari pendapatan nasional tahun sebelumnya dan ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat dengan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sebagai contoh transfer payment adalah tunjangan, dana pensiun, dan lain sebagainya.

Namun perlu diketahui bahwa pendapatan perseorangan ini tidak dihitung berdasarkan pendapatan per individu namun pada pendapatan bersih yang diperoleh masyarakat. Hal ini karena setiap masyarakat setiap negara memiliki kondisi berbeda sehingga pendapatan per kapita tidak bisa digunakan sebagai acuan.

Disposable Income (DI) atau Pendapatan Yang Siap Dibelanjakan

Pendapatan yang siap dibelanjakan atau Disposable Income (DI) merupakan pendapatan nasional yang siap untuk digunakan untuk pembelanjaan atau dimanfaatkan sebagai investasi. Perolehan DI ini dihitung dari pendapatan nasional dikurangi dengan pajak langsung.

Pendapatan ini juga bisa disebut juga dengan pendapatan bersih atau pendapatan yang sungguh-sungguh diterima oleh masyarakat dan siap untuk dimanfaatkan.

Rumus Disposable Income dapat disajikan seperti di bawah ini :

DI

Manfaat Pendapatan Nasional

Setelah mengetahui perhitungan dan berbagai konsep akan pendapatan nasional maka dapat diambil berbagai manfaat. Terdapat setidaknya 5 manfaat perhitungan pendapatan nasional, diantaranya :

1. Alat Ukur Tingkat Kesejahteraan Pada Suatu Negara

Dengan mengukur dan mengetahui pendapatan nasional maka indikator tersebut sebagai alat ukur tingkat kesejahteraan secara umum masyarakat di suatu negara. Hal ini dikarenakan pada komponen pendapatan nasional terdapat faktor perorangan, pendapatan, pengeluaran dan lain sebagainya.

Sehingga secara umum pendapatan nasional mampu dijadikan acuan dari tingkat kesejahteraan dari suatu negara.

2. Membandingkan Tingkat Kesejahteraan Antar Negara

Mengetahui kesejahteraan dari pendapatan nasional yang ada juga dapat dijadikan perbandingan dengan negara lainnya. Secara umum kita jadi mengetahui negara mana yang tergolong sejahtera dan negara mana yang pra-sejahtera. Apabila terdapat negara yang bereada di bawah indikator sejahtera maka bisa dijadikan acuan dalam menyusun program nasional.

3. Perbandingan Kondisi Perkembangan Perekonomian

Tidak hanya membandingkan kesejahteraan antar negara. Pendapatan nasional sekaligus bisa melihat perekembangan perekonomian suatu negara. Apabila dari waktu ke waktu terjadi peningkatan pendapatan nasional bisa disimpulkan bahwa perekonomian negara semakin membaik. Begitu juga sebaliknya jika pendapatan nasional semakin menurun maka perekonomian negara tersebut sedang bermasalah.

Selain itu dari kondisi tersebut juga bisa melihat situasi perekonomian secara umum. Jika pendapatan nasional meningkat berarti kondisi dalam mencari pendapatan sedang membaik. Kondisi tersebut seperti mudahnya perolehan pekerjaan, upah minimum yang di atas inflasi, dan kemudahan berwirausaha. Adapun jika pendapatan menurun berarti terjadi kesulitan dalam memperoleh atau meningkatkan pendapatan.

4. Mengetahui Struktur Perekonomian Nasional

Melalui pendapatan nasional kita jadi memahami struktur perekonomian suatu negara. Selain melihat perkembangan perekonomian bisa juga dilihat dari sektor apa perekonomian suatu negara disokong.

Melalui data yang ada khususnya data kontribusi setiap sektor maka dapat ditentukan negara tersebut tergolong menjadi negara agraris, industri, atau jasa. Sebagai contoh melalui data kontribusi maka dapat diketahui bahwa Indonesia masuk pada negara agraris atau pertanian. Adapun Jepang masuk pada negara industri. Sedangkan Singapura tergolong menjadi negara jasa. Begitu pula terjadi pada negara-negara lainnya.

5. Menentukan Kontribusi Setiap Sektor Nasional maupun Daerah

Berdasarkan data kontibusi setiap sektor baik di daerah maupun nasional maka dapat diliat sektor mana yang menjadi unggulan nasional dan daerah. Angka-angka inilah nanti yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kebijakan. Pertama melihat perkembangan suatu sektor. Kedua sebagai pedomen penyusunan kebijakan dalam peningkatan suatu sektor (pertanian, pertambangan, industri, jasa, perdagangan, dan lainnya).

6. Pedoman dalam Menyusun Kebijakan

Seperti ulasan sebelumnya maka data pendapatan nasional ini sebagai bahan utama dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan perekonomian secara nasional. Mana yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan kemudian sektor mana yang dijadikan unggulan. Semua akan dirumuskan pada kebijakan nasional.

Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional

Pendapatan Nasional Indonesia
Pendapatan Nasional Indonesia

Besar kecil dan peningkatan serta penurunan pendapatan nasional dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Setidaknya terdapat 4 faktor yang berdampak langsung seperti permintaan dan penawaran agregat, investasi, serta konsumsi dan tabungan.

Permintaan & Penawaran Agregat

Terbentuknya Permintaan dan Penawaran secara agregat terhadap suatu produk pada tingkat harga oleh masyarakat dan perusahaan sangat berpengaruh terhadap pendapatan nasional. Agregat disini berarti hubungan seluruh daftar permitaan dan penawaran secara keseluruhan (nasional).

Investasi

Faktor investasi baik masyarakat maupun individu masuk pada komponen pengeluaran agregat. Hal ini dikarenakan bagi pelaku ekonomi yang berinvestasi menandakan bahwa terjadi peningkatan secara ekonomi dari sisi pendapatan. Tentu saja hal ini akan berdampak pada pendapatan nasional.

Konsumsi

Pengeluaran untuk konsumsi dapat diartikan sebagai pengeluaran untuk memperoleh barang dan jasa pada Kegiatan Ekonomi dalam periode waktu tertentu. Apabila terjadi peningkatan ekonomi dapat disimpulkan bahwa perolehan pendapatan masyarakat di suatu negara juga meningkat.

Tabungan

Sedangkan, tabungan adalah pendapatan yang ditahan atau tidak digunakan untuk keperluan konsumsi. Jika nominal tabungan meningkat maka disimpulkan bahwa pendapatan juga meningkat.

Distribusi Pendapatan Nasional

Secara umum memang contoh pendapatan nasional melalui beragam metode perhitungan yang dibahas sebelumnya dapat menunjukkan kesejahteraan secara umum. Namun hal yang perlu dipahami adalah terkait dengan pemerataan kesejahteraan. Karena bisa jadi pendapatan masyarakat tertentu dengan masyarakat lain terpaut sangat jauh.

Oleh karena itu perlu diketahui mengenai distribusi pendapatan nasional.

Distribusi pendapatan nasional adalah konsep yang perlu dipahami untuk mengetahui pemerataan kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Pemerataan kesejahteraan melalui distribusi pendapatan nasional dapat membuktikan kemakmuran di suatu negeri.

Begitu juga dengan sebaliknya. Apabila distribusi pendapatan tidak merata meski indikator pendapatan nasional tinggi maka wilayah negara tersebut tidak bisa dikatakan sejahtera.

Menghetahui Distribusi Pendapatan Nasional

Untuk mengetahui pendapatan nasional di Indonesia setidaknya terdapat 3 cara atau indikator diantaranya :

1. Kurva Lorens

Penggunaan kurva lorens ditujukan untuk mengetahui tingkat pemerataan distribusi pendapatan nasional. Kurva ini menunjukkan keterkaitan antara distribusi jumlah penduduk dengan pendapatan.

2. Gini Ratio

Adapun Gini Ratio digunakan untuk mengetahui indikator distribusi pendapatan nasional. Gini Ratio sebagai alat ukur ketimpangan atau kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat.

3. Peningkatan Jumlah Penduduk

Menurut World Bank pertumbuhan jumlah penduduk dapat berpengaruh terhadap pemerataan pendapatan nasional. Semakin tinggi peningkatannya maka dapat menurunkan nilai pendapata per kapita.

4. Inflasi

Adanya Inflasi ditunjukkan dengan adanya pertambahan uang dan pendapatan namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi secara proposional. Ketimpangan ini akan berdampak pada distribusi pendapatan nasional di suatu negara.

5. Investasi

Penggunaan anggaran untuk investasi yang berlebihan dapat menyebabkan perolehan pendapatan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari hasil penggunaan faktor produksi tenaga kerja. Kondisi ini akan menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran sehingga masyarakat sulit memperoleh pendapatan dan berkembang secara ekonomi.

Baca : 7 Investasi Paling Menguntungkan Yang Layak Anda Coba

6. Kebijakan Impor

Diterapkannya kebijakan impor dengan menaikkan barang-barang industri dari luar negeri yang tidak berbanding dengan nilai tukar rupiah juga dapat berimbas pada pendapatan nasional. Hal ini selain harga yang diterima mahal khususnya di negara berkembang sebagai konsumen juga adanya kondisi yang sama terhadap produk negara berkembang di negara maju. Sehingga tidak cukupnya perolehan pendapatan dari ekspor dibandingkan dengan harga tinggi saat impor.

7. Kemunduran Industri Rumah Tangga

Apabila industri rumahan mulai mengalami kemunduran maka dipastikan bahwa pendapatan per kapita akan berkurang. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan nasional yang tidak merata. Menimbulkan tingginya ketimpangan antara masyarakat kelas menengah ke bawah dengan masyarakat ekonomi atas.

Baca Juga : 16 Contoh Industri Kreatif di Indonesia Paling Diminati

Demikian ulasan mengenai pendapatan nasional yang dapat kami sajikan. Semoga bermanfaat dalam penyusunan pendapatan nasional anda semua. Jangan lupa untuk terus mengikuti informasi dari Jurnal Manajemen yang akan terus update untuk kalian semua.