Penjelasan Laporan Laba Rugi Terlengkap + Contoh

10 min read

laporan laba rugi

Pada pembahasan Jurnal Manajemen mengenai laporan keuangan diketahui terdapat salah satu komponen laporan keuangan yaitu laporan laba rugi. Secara sederhana laporan ini merupakan laporan dalam siklus akuntansi yang dibuat atau disusun dalam satu periode tertentu. Ringkasnya pada laporan laba rugi akan memberikan informasi mengenai beberapa komponen seperti pendapatan dan beban biaya yang ditanggung perusahaan. Dari keduanya itulah nanti diperoleh laba atau kerugian perusahaan.

Pada pembahasan kali ini Jurnal Manajemen akan membicarakan mengenai laporan laba rugi yang biasa disusun oleh perusahaan. Pembahasan akan meliputi mengenai definisi, bentuk, tujuan, format, hingga langkah dalam menyusun laporan laba rugi.

Pengertian Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi merupakan laporan yang dibutuhkan dalam setiap perusahaan, baik itu perusahaan dagang atau pun manufaktur. Jenis laporan ini menyajikan setiap transaksi yang menyebabkan pemasukan dan pengeluaran kas utama. Laporan laba rugi adalah laporan yang bisa disusun dari data neraca lajur. Informasi di dalamnya yaitu pendapatan, harga pokok penjualan (HPP) dan beban biaya perusahaan.

Sehingga laporan laba rugi bisa dikatakan sebagai laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan dalam periode waktu tertentu.

Biasanya laporan yang memberikan data positif mengenai keuntungan perusahaan dilihat dari beberapa indikator seperti :

  1. Naiknya jumlah pendapatan
  2. Turunnya harga pokok penjualan (produksi)
  3. Menurunnya tingkat beban biaya

Pada pembuatan laporan untuk laba rugi akan berbeda untuk perusahaan dagang, perusahaan manufaktur, atau pun perusahaan jasa. Pada perusahaan dagang, laporannya lebih sederhana dibandingkan dengan laporan dari perusahaan manufaktur. Semua tergantung pada unsur atau komponen yang ada di dalamnya.

laporan laba rugi sederhana
laporan laba rugi sederhana

Urgensi Laporan Laba Rugi

Penyusunan laporan laba rugi bagi perusahaan sangatlah penting. Selain memang melihat kondisi keuangan (laba-rugi) perusahaan secara spesifik arti penting dari laporan ini adalah :

  1. Menjadi standar terhadap kesehatan financial perusahaan dengan menunjukkan keuntungan/kerugian perusahaan.
  2. Melalui laporan laba rugi perusahaan dapat melihat tren apakah keuntungan/kerugian yang dialami meningkat atau menurun.
  3. Sebagai acuan kebijakan terhadap strategi dan langkah-langkah perusahaan ke depannya dengan mempertimbangkan pendapatan dan beban biaya yang ada sebelumnya.

Pada intinya fungsi laporan terkait dengan laba rugi tergantung oleh si pengguna. Bagi manajemer keuangan kemungkinan digunakan untuk melihat kesehatan financial perusahaan. Sedangkan bagi manajer pemasaran bisa sebagai pertimbangan dalam efisiensi produksi. Bagi investor dapat melihat aktivitas operasional dan non operasional perusahaan. Begitu juga bagi stakeholder terkait lainnya.

Komponen Penyusun Laporan Laba Rugi

Seperti pembahasan sebelumnya mengenai laporan laba rugi. Pada intinya penyusun dari laporan laba rugi adalah :

  1. Penjualan
  2. Harga Pokok Penjualan
  3. Biaya

Akan tetapi pada pelaporannya tidaklah sesederhana seperti yang disebutkan di atas. Contohnya pada komponen biaya bisa dikategorikan menjadi biaya operasional, biaya bunga, biaya pajak, dan sebagainya. Adapun keterangan lebih detailnya dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini :

  1. Penjualan

Aspek penjualan adalah nilai kali dari jumlah produk (barang dan jasa) dengan harga jual pada konsumen.

Keuntungan atau laba perusahaan sangat ditentukan dari nilai penjualan. Oleh karenanya nilai penjualan selalu menjadi sorotan awal dalam melihat kinerja perusahaan.

  1. Harga Pokok Penjualan

Dalam memproduksi suatu barang pastilah memerlukan biaya seperti biaya bahan tetap (sewa, penyusutan alat, promosi dll) dan biaya variabel (biaya habis pakai bahan mentah, gaji karyawan, dll). Total biaya tersebut nantinya dibagi dengan jumlah barang yang diproduksi itulah yang dimaksud dengan Harga Pokok Penjualan.

Pada intinya harga pokok penjualan merupakan harga dasar dari suatu produk. Jika dijual dengan harga tersebut maka perusahaan secara financial tidak untuk maupun tidak rugi atau Impas (BEP).

Pada perusahaan dagang yang berperan sebagai distributor atau penyalur maka harga pokok penjualannya diperoleh dari harga beli barang tersebut.

Sedangkan pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa maka biayanya dihitung dari biaya sumber daya yang dikeluarkan untuk menghasilkan jasa tersebut.

  1. Laba Kotor

Setelah diketahui penjualan dan harga pokok penjualan maka selisih antara keduanya disebut dengan laba kotor.

Laba kotor inilah awal sebelum diketahui laba bersih. Jika laba kotor menunjukkan angka positif dan cenderung stabil maka potensi untuk memperoleh hasil positif pada laba bersih semakin tinggi.

  1. Biaya Operasional

Pada kegiatan operasional perusahaan biasanya dilakukan aktivitas pemasaran. Nah pada aktivitas inilah timbul yang namanya biaya operasional. Biaya operasional termasuk di dalamnya yaitu biaya penjualan dan biaya umum & administrasi.

Pada biaya penjualan maka segala biaya yang muncul akibat aktivitas pemasaran dan penjualan. Sedangkan biaya umum & administrasi timbul dari akibat aktivitas operasional menjalankan perusahan dalam rangka mencapai nilai penjualan yang tercatat.

Perkembangan dan perbandingan (presentasi) dari biaya operasional dengan penjualan wajib diamati secara mendalam. Langkah melihat trend tersebut dapat memberikan informasi mengenai tanda-tanda kemampuan operasional perusahaan. Sehingga jika ingin menjalankan aktivitas operasional lebih efisien maka biaya operasional harus diatur sedemikian rupa.

  1. Laba Operasional

Dari laba kotor yang diperoleh perusahaan dan mengurangkannya dengan biaya operasional maka akan ditemukan laba operasional.

Laba operasional ini memberikan angka pendapatan perusahaan setelah melakukan aktivitas operasional. Angka ini belum dikurangi dengan biaya bunga, biaya pajak, dan biaya depresiasi & amortisasi.

Pada tingkat laba operasional perusahaan biasanya digunakan oleh pengamat keuangan untuk melihat tingkat laba perusahaan yang sebenarnya.

  1. Biaya Bunga

Sumber keuangan perusahaan pada neraca passiva termasuk di dalamnya adalah hutang. Biasanya biaya bunga ini merupakan biaya yang berasal dari pinjaman hutang perusahaan dari lembaga keuangan seperti Bank dan instansi lainnya.

Oleh karenanya manajemen hutang dan manajemen kas perlu diperhatikan secara seksama. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan dana untuk membayar hutang dan juga bunga hutang. Jangan sampai biaya bunga sampai terlalu memberatkan operasional perusahaan.

  1. Biaya Depresiasi & Amortisasi

Perusahaan pastilah memiliki aset baik aset yang memiliki wujud maupun aset yang tidak memiliki wujud.

Biaya Depresiasi

Untuk aset yang berwujud (tangible assets) seperti mesin, gedung, kendaraan, dan berbagai peralatan biasanya terkena biaya depresiasi. Hal ini karena semua aset tersebut memiliki umur ekonomis tertentu. Sehingga dari penjelasan tersebut biaya depresiasi merupakan biaya penyusutan dari nilai aset berwujud dalam periode waktu tertentu.

depresiasi
depresiasi

Contohnya jika anda memiliki aset usaha berupa mesin dengan harga 150 juta dan memiliki umur ekonomis atau pemakaian selama 5 tahun. Misalkan dalam jangka waktu 5 tahun (60 bulan) harga mesin tersebut menjadi 30 juta maka perhitungan biaya depresiasi dari mesin tersebut adalah :

150 juta – 30 juta = 120 juta à 120 juta : 60 bulan = 2 juta/bulan

Maka setiap satu bulan perusahaan harus mengeluarkan 2 juta untuk biaya depresiasi mesin yang digunakan.

Pengeluaran biaya depresiasi sangatlah penting karena penggantian aset khususnya aset tetap perusahaan harus dilakukan untuk menjalankan aktivitas operasional. Sehingga jika aset tetap sudah mencapai umur ekonomisnya maka perusahaan wajib menggantinya.

Perlu diketahui cara perhitungan di atas adalah metode garis lurus. Masih ada metode lainnya dalam menghitung biaya depresiasi/penyusutan. Pada intinya nantinya biaya tersebut akan digunakan untuk membeli aset dengan sepsifikasi yang tidak banyak berbeda dari segi spesifikasi. Hal ini memudahkan perusahaan jika nanti saatnya perusahaan harus membeli aset baru maka dana sudah siap tersedia. Jika ingin membeli dengan spesifikasi yang lebih baik juga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya.

Biaya Amortisasi

Seperti halnya biaya depresiasi, biaya amortisasi merupakan biaya penyusutan pada nilai aset perusahaan. Namun aset perusahaan dalam hal ini adalah aset yang tidak berwujud (intangible assets). Beberapa intangible assets yang dimiliki perusahaan biasanya seperti hak cipta, hak paten, hak memakai brand maupun hak memiliki franchise/waralaba.

Perhitungan dari biaya amortisasi sendiri kurang lebih sama dengan perhitungan pada biaya depresiasi.

  1. Biaya Pajak

Keberjalanan suatu perusahaan di suatu wilayah negara yang memiliki aturan perpajakan pasti mengeluarkan biaya pajak. Peraturan biaya pajak disesuaikan dengan hukum di wilayah tertentu.

Di Indonesia sendiri terdapat peraturan yang mengatur berbagai jenis perusahaan. Peraturan ini disesuaikan dengan jenis usaha yang dilaksanakan oleh perusahaan.

Dari semua jenis pajak terdapat beberapa peraturan perpajakan yang hampir dirasakan oleh perusahaan seperti di bawah ini :

Pajak Penghasilan Pasal 21 Yaitu pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh
Pajak Penghasilan Pasal 23 Meliputi pajak transaksi deviden (pembagian keuntungan saham), royalti, bunga, hadiah, dan penghargaan, sewa, dan penghasilan lain yang terkait dengan penggunaan aset selain tanag atau transfer bangunan atau jasa.
Pajak Penghasilan Pasal 25 Penerapan pajak atas laba bersih perusahaan
Pajak Penghasilan Pasal 29 Setoran kekurangan pajak atas laba bersih perusahaan. Pajak ini dibayarkan sebelum SPT Tahunan PPh Badan dilaporkan.
  1. Laba/Rugi Bersih

Pada fase ini merupakan indikator yang menentukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau profitabilitas. Perolehan laba/rugi bersih perusahaan yaitu laba operasional dikurangi dengan biaya bunga, biaya depresiasi dan amortisasi serta biaya pajak. Atau dengan perhitungan yang lebih sederhana adalah seluruh pendapatan baik operasional maupun non-operasional dikurangi seluruh beban biaya.

Apabila biaya lebih besar dibandingkan dengan pendapatan maka kondisi kesehatan keuangan perusahaan sedang buruk. Pada kondisi ini dipastikan perusahaan mengalami kerugian.

Sebaliknya jika perusahaan memperoleh keuntungan setelah membagi deviden bagi pemilik modal maka sisanya dapat menjadi laba ditahan. Laba ditahan ini yang akan menjadi tambahan modal bagi perusahaan untuk menjalan operasional usaha.

 

Baca Juga : Contoh Faktur Penjualan

 

Bentuk Laporan Laba Rugi

Laporan untuk laba rugi perusahaan dagang maupun manufaktur terdapat dua bentuk yaitu single step dan multiple step. Laporan single step dapat disusun dengan mudah dari neraca lajur. Sedangkan multiple step merupakan pengelompokkan unsur di dalamnya yang lebih kompleks.

  1. Laba Rugi Single Step

Laba rugi dalam bentuk laporan single step merupakan contoh laporan laba rugi perusahaan yang paling sederhana. Pada intinya laporan ini lebih ringkas dalam menampilkan penjualan bersih, beban usaha, dan pendapatan di luar usaha. Terdapat cukup banyak contoh laporan keuangan dan juga laba rugi yang bisa dipelajari dari internet. Pada perusahaan dagang dan khususnya laporan laba rugi single step memerlukan dokumen-dokumen yang menyebabkan bertambahnya dan berkurangnya kas.

Pada format single step ini, laporan disusun dengan menurun dimulai dari menuliskan berbagai komponen mengenai seluruh pendapatan. Pendapatan bisa dari penjualan, pendapatan bunga, atau penjualan asset. Komponen pendapatan dijumlahkan terlebih dahulu.

Kemudian langkah selanjutnya adalah mengelompokkan dan menjumlahkan komponen beban/biaya yang dikeluarkan perusahaan. Komponen biaya seperti Harga pokok penjualan, biaya operasional, beban bunga, adanya kerugian karena kerusakan, dll.

Setelah mengetahui total pendapatan dan penjualan maka tinggal dihitung selisihnya. Jika positif maka perusahaan memperoleh keuntungan. Begitu juga sebaliknya.

Alasan memilih metode atau bentuk laporan ini adalah karena ringkas dan mudah untuk dipahami.

laporan laba-rugi single step
laporan laba-rugi single step
  1. Laba Rugi Multiple Step

Perbedaan pada format multiple step adalah adanya pemisahan antara pendapatan yang dihasilkan dari usaha dan beban dari segi aktivitas operasional dan non-operasional.

Penyusunan laporan laba rugi perusahaan untuk multiple step dimulai dengan menyusun penjualan bersih. Hasilnya kemudian dikurangi dengan harga pokok penjualan yang akan menampilkan total laba kotor perusahaan.

Setelah itu, penyusunan laporan laba rugi dilanjutkan dengan menyusun total beban yang dikeluarkan perusahaan. Beban dibagi dalam kategori beban usaha dan beban administrasi dan umum. Beban yang termasuk beban usaha antara lain adalah beban penjualan, iklan, perlengkapan, beban angkut, dan beban peralatan. Sedangkan untuk beban administrasi dan umum, mencakup seperti beban gaji kantor, beban penyusutan, dan beban serba-serbi. Format laporan laba rugi ini lebih jelas spesifik.

Selisih antara laba kotor dan beban operasional ini dinamakan dengan laba/pendapatan operasional.

Setelah itu dicari lagi komponen pendapatan dari non-operasional seperti pendapatan bunga dan dari penjualan aset. Dilanjtutkan dengan beban non-operasional yang meliputi beban bunga, kerugian dan kerusakan.

Hasil dari pendapatan operasional tadi dapat ditambah dengan pendapatan non operasional dan dikurangi beban non-operasional. Jika positif maka menunjukkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Apabila hasilnya negatif berarti perusahaan mengalami kerugian.

laporan laba-rugi multiple step
laporan laba-rugi multiple step

Ratio Pengukuran Kesehatan Keuangan dari Laporan Laba Rugi

Terdapat langkah awal yang mudah dipahami dari membaca laporan laba rugi. Langkah tersebut yaitu dengan mencari ratio profitabilitas/Rentabilitas yang diperoleh dari informasi yang ada pada laporan laba rugi. Beberapa ratio yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :

  1. Berkaitan dengan Jumlah Penjualan
  • Net Profit Margin
  • Operating Profit Margin
  • Gross Profit Margin
  1. Berkaitan dengan Penggunaan Aktiva
  • Return on Total Assets atau Return On Investment (ROI)
  • Return On Net Working Capital
  1. Berkaitan Dengan Modal Sendiri (Equity Ratio)

Sebagai contoh pada data di bawah ini disajikan neraca keuangan dan laporan laba rugi perusahaan PT. ABC (Ilustrasi)

laporan laba rugi contoh
laporan laba rugi contoh

Net Profit Margin

Untuk menghitung net profit margin maka menggunakan rumus :

net profit margin
net profit margin

Nilai Net Profit Margin yang dianggap tepat atau baik sangat dipengaruhi oleh sifat kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan bersangkutan, besarnya modal yang ditanamkan dan resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Biasanya profit margin rata-rata industri dijadikan sebagai patokan.Tentu saja bertambah tinggi net profit margin bertambah baik bagi perusahaan.

Operating Profit Margin

Laba operasi (Operating Profit) sering juga disebutkan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT).

Berikut Rumusnya :

 

operating profit margin
operating profit margin

Operating Profit Margin sering dijadikan alat untuk mengukur laba murni (pure profit) yang diterima dari penjualan setiap rupiah yang telah dilakukan perusahaan.

Dikatakan laba murni karena laba ini belum diperhitungkan kewajiban-kewajiban perusahaan yang harus dibayar kepada pihak lain seperti kreditur dari peerintah.

Bertambah tinggi operating profit margin maka bertambah baik bagi perusahaan. Ratio ini dapat dipertinggi dengan meningkatkan jumlah penjualan dan mengurangi biaya baik biaya yang berkaitan dengan harga pokok penjualan maupun biaya administrasi dan biaya penjualan.

Gross Profit Margin

Laba Kotor (Gross Profit Margin) adalah selisih antara laba bersih dengan harga pokok penjualan.

Berikut Rumusnya :

Gross Profit Margin
Gross Profit Margin

Bertambah tinggi hasil ratio ini berarti bertambah baik bagi perusahaan dan pimpinan perusahaan telah berhasil dalam menekan biaya produksi dan memperbesar jumlah penjualan.

Return On Total Assets

Pengertian Return on Total Assests adalah ratio penjualan untuk menetapkan kemampuan dari total aktiva perusahaan dalam menghasilkan laba.

Biasanya Return on Total Assets biasa juga dinamakan return on investment (ROI)).

Berikut Rumusnya :

ROI
ROI

Untuk mengetahui apakah ROI tersebut baik atau tidak maka harus dibandingkan dengan rati rata-rata industri.

Laporan Laba Rugi Pada Perusahaan Manufaktur

Cara membuat laporan laba rugi meliputi penyusunan data pendapatan, harga pokok penjualan atau HPP, dan beban usaha.

  1. Pendapatan dari perusahan manufaktur

Perusahaan manufaktur akan membuat laporan keuangan di setiap akhir periode akuntansi. Contoh laporan laba rugi merupakan salah satu jenis laporan keuangan yang perlu dibuat. Ada beberapa penyusun yang dibutuhkan dalam membuat jenis laporan tersebut.

Penyusun utama dari laba rugi adalah pendapatan perusahaan. Setiap transaksi yang berhubungan dengan pendapatan seperti penjualan, diskon atau potongan penjualan, dan pendapatan bunga disusun untuk memperoleh berapa total pendapatan bersih perusahaan. Transaksi penjualan dan potongan penjualan biasanya memiliki dokumen seperti faktur, kuitansi, nota kontan, dan nota debit.

  1. Harga pokok penjualan pada perusahaan manufaktur

Harga pokok penjualan perlu disusun dalam laporan laba rugi pada perusahaan manufaktur. HPP tersebut akan menghasilkan berapa total laba kotor yang dihasilkan oleh perusahaan. HPP ini juga yang membedakannya dengan laba rugi pada perusahan dagang.

Dimulai dari jumlah persediaan awal ditambah dengan pembelian bersih perusahaan. Hasil penambahan tersebut merupakan jumlah barang yang tersedia untuk dijual. Setelah mengetahui jumlahnya, selanjutnya adalah menguranginya dengan jumlah persediaan akhir. Barang yang siap untuk dijual dikurangi dengan persediaan akhir akan menghasilkan harga pokok penjualan atau HPP.

Jumlah tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui laba kotor perusahaan. Langkahnya adalah dengan mengurangi jumlah pendapatan dengan jumlah HPP. Membuat laporan laba rugi pun sudah sampai di laba kotor.

  1. Jumlah beban yang dikeluarkan

Setelah diketahui berapa laba kotor, langkah selanjutnya adalah mencari total beban untuk mengetahui berapa laba bersih perusahaan. Beban yang masuk dalam laporan laba rugi tentu saja bisa beragam, tergantung dari perusahaannya sendiri.

Namun untuk beban yang secara umum biasa masuk dalam laporan keuangan perusahaan dagang antara lain adalah beban listrik dan air, gaji karyawan, beban asuransi, beban pemeliharaan, beban penyusutan peralatan kantor, beban penyusutan perlengkapan kantor, dan beban penyusutan gedung. Slip gaji dan nota merupakan beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk mengetahui beban-beban tersebut.

Total seluruh beban tersebut, kemudian dimasukan untuk mengurangi laba kotor. Hasil dari pengurangan laba kotor dan beban, didapatkan laba bersih perusahaan yang merupakan data utama yang dibutuhkan dalam Laporan laba rugi perusahaan manufaktur.

Laporan Laba Rugi Bentuk Komprehensif

Pengertian laporan laba rugi menyebutkan sebagai laporan yang meringkas semua pendapatan dan biaya perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Laporan tersebut tentunya berguna untuk pemilik perusahaan mengetahui berapa keuntungan atau pun beban yang dikeluarkan. Selain untuk melihat untung rugi, khusus untuk Laporan laba rugi komprehensif ini lebih bertujuan untuk mengetahui progres atau perkembangan dari suatu usaha.

  1. Kegunaan laporan laba rugi bentuk komprehensif

Laporan seperti ini sangat dibutuhkan tidak terkecuali untuk para investor. Informasi yang ada dalam laporan laba rugi dapat memberikan informasi dan prediksi bagaimana suatu usaha berjalan. Selain untuk investor, laporan tersebut juga dibutuhkan oleh para kreditor. Paling  utama adalah kegunaan laporan laba rugi untuk manajemen atau pengelolaan perusahaan. Laporan tersebut bisa dijadikan sumber untuk memutuskan hal-hal penting seperti target laba perusahaan.

  1. Keterbatasan laporan komprehensif

Penghasilan atau beban ini menjadi beberapa data yang tidak bisa diukur dengan detail pada contoh soal laporan laba rugi yang komprehensif. Laba yang dilaporkan juga dipengaruhi oleh metode akuntansi yang ditetapkan perusahaan. Penyusunan penghasilan dan beban ini melibatkan pertimbangan dari pihak manajemen perusahaan.

  1. Kualitas laba

Laporan laba rugi yang dibuat secara komprehensif biasanya diatur karena digunakan untuk data terkait kredit dan investasi. Manajemen laba bisa saja mengubah data atau jumlah laba yang ada di laporan. Hal tersebut dilakukan agar investor dapat lebih tertarik dengan perusahaan.

  1. Penyusun laporan

Penghasilan dan beban pada laporan laba rugi perusahaan jasa atau dagang, tentu lebih jelas dan objektif. Sedangkan untuk yang komprehensif ini, pendapatan lebih dikaitkan dengan kenaikan aset secara neto yang tidak berasal dari pemilik modal. Untuk beban didefinisikan sebagai penurunan nilai yang menyebabkan penyusutan nilai aset. Laporan laba rugi yang disusun berupa pendapatan yang dikurangi beban yang mungkin tidak diakui dalam SAK.

Bentuk laporan laba rugi memang bisa berbeda-beda, tergantung bentuk perusahaan dan juga tujuannya. Seperti perusahaan dagang dan manufaktur yang perbedaannya karena adanya laporan mengenai HPP.

Demikian informasi mengenai laporan laba rugi yang dapat kami sampaikan. Perlunya praktik dalam penyusunan laporan laba rugi dnegan data yang nyata/real sangat dianjurkan untuk memahami keseluruhan materi.

Selain itu perhitungan akan lebih mudah jika dibantu software pendukung akuntansi ataupun software sederhana seperti M.Excel.

Sumber Gambar

pusatfotokopi.wordpress.com

zahiraccounting.com

apriantokuddy.wordpress.com