9 WALISONGO : Kisah, Biografi, Sejarah, Nama Asli, Asal, Dll

12 min read

Wali Songo

Bagi masyarakat muslim di Indonesia tentu tidak asing dengan Wali Songo. Bahkan di antara sekian banyak wisata religi di Indonesia, ziarah ke makam sembilan wali tersebut merupakan hal yang paling banyak dilakukan. Tidak hanya familiar di kalangan masyarakat Indonesia saja, kiprah sembilan wali ini juga begitu populer di luar negeri terutama wilayah Asia Tenggara.

Wali Songo sebetulnya merupakan penyebar agama islam di negara Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Oleh karena itu, wajar saja jika banyak masyarakat yang mengunjungi makam para Sunan yang termasuk ke dalam sembilan wali tersebut, khususnya selama bulan ramadhan. Lantas, sudahkah Anda mengenal para sunan wali songo dan asalnya yang menyebarkan ajaran Islam di Indonesia tersebut ?

Simak ulasan sejarah wali songo yang telah Jurnal Manajemen rangkum di bawah ini :

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

wali songo : Sunan Gresik
wali songo : Sunan Gresik

1. Kelahiran Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Biografi wali songo pertama yang perlu Anda ketahui ialah Sunan Gresik. Barangkali Anda sudah tidak asing lagi dengan salah satu dari sembilan wali yang tersohor tersebut. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu dari sembilan wali yang kiprahnya dimulai pada abad ke 14.

Sunan yang memiliki nama lain Makdum Ibrahim As-Samarkandy ini diperkirakan lahir pada paruh awal abad ke 14 di daerah Samarkand wilayah Asia bagian tengah. Sumber lain menyebutkan bahwa Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarqand pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal H atau sekitar 819 Masehi.

Maulana Malik Ibrahim memiliki begitu banyak nama lain. Adapun nama-nama yang dimiliki oleh Maulana Malik Ibrahim ialah sebagai berikut.

  • Sunan Gresik
  • Sunan Raja Wali
  • Sunan Tandhes
  • Wali Quthub
  • Mursyidul Auliya’ Wali Sembilan
  • Sayyidul Auliya Wali Sembilan

Sunan yang juga kadangkala disebut sebagai Syekh Maghribi ini merupakan saudara dari Maulana Ishak, yaitu seorang ulama yang cukup masyhur di Samudera Pasai. Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak adalah putra dari ulama terkenal Persia bernama Maulana Jumadil Kubro. Menurut kabar yang beredar, Maulana Jumadil Kubro adalah keturunan ke 10 dari Sayidina Husein cucu Rasulullah SAW.

Maulana Malik Ibrahim sempat bermukim di Campa yang saat ini bernama negara Kamboja sejak tahun  1379 selama 13 tahun lamanya. Selama tinggal di Campa, Maulana Malik Ibrahim menikah dengan putri kerajaan Campa bernama Siti Fatimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil yang kemudian dari pernikahan itu lahirlah dua putra bernama Raden Rahmat dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri.

Selain menikah dengan Siti Fatimah yang notabennya merupakan putri dari kerajaan Campa, Maulana Malik Ibrahim juga memiliki istri lainnya. Istri kedua Maulana Malik Ibrahim bernama Siti Maryam binti Syaikh Subakir. Dengan Siti Maryam, Maulana Malik Ibrahim memiliki empat anak bernama Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur dan Ahmad.

Istri terakhir Maulana Malik Ibrahim bernama Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi. Dengan Wan Jamilah, Maulana Malik Ibrahim memiliki 2 anak yakni Abbas dan Yusuf.

2. Perjalanan dakwah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Usai merasa cukup dalam hal menjalankan misi dakwah di negeri Campa, Maulana Malik Ibrahim pun pergi ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya di Campa pada tahun 1392. Meskipun meninggalkan keluarga, Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa tidak seorang diri. Ia datang bersama beberapa orang ke desa Sembalo, yakni sebuah desa yang masih dikuasai oleh kerajaan Majapahit.

Konon desa Sembalo yang merupakan desa pertama yang didatangi Maulana Malik Ibrahim untuk pertama kalinya tersebut, saat ini dikenal dengan nama Leran, kecamatan Manyar dan terletak 9 kilometer dari Gresik.

Pada hakikatnya, Maulana Malik Ibrahim merupakan urutan wali songo pertama yang dimulai sejak kedatangannya di pulau Jawa tersebut. Untuk menjalankan misi dakwahnya, Maulana Malik Ibrahim menjalankan misi pergaulan dengan masyarakat setempat. Beliau senantiasa menggunakan budi pekerti dan keramah-tamahan dalam tindak dan tutur kata sehari-hari.

Usaha dakwah tersebut pun membuahkan hasil dengan perlahan-lahan para masyarakat setempat mulai tertarik untuk belajar islam. Selanjutnya, Maulana Malik Ibrahim menggunakan strategi dagang sebagai bagian dari misi menjalan dakwahnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ia pun bisa sampai ke ibukota Majapahit di Trowulan dan diterima dengan baik oleh Raja Majapahit kala itu.

3. Wafatnya Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Maulana Malik Ibrahim wafat usai membangun serta menata pondokan sebagai tempat menimba ilmu agama di Leran pada tahun 1419 Masehi. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.


Sunan Ampel (Raden Rahmat)

wali songo : sunan ampel
wali songo : sunan ampel

1. Kelahiran Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel adalah satu dari sembilan wali yang turut serta dalam menyebarkan agama islam di nusantara, khususnya pulau Jawa. Sunan yang memiliki nama kecil Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah ini lahir di Champa pada tahun 1401 Masehi.

Menurut kabar, beliau merupakan putra dari wali sembilan yakni Maulana Malik Ibrahim atau yang juga dikenal dengan Maulana Maghribi. Ibunya bernama Siti Fatimah atau Dewi Chandrawulan yang mana merupakan saudari kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah yang merupakan istri raja Majapahit Prabu Brawijaya V.

Sunan Ampel memiliki dua orang istri yang bernama Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah dikaruniai dua orang anak yaitu Dewi Murtasih dan Dewi Murtasimah. Dewi Murtasih kelak akan menjadi istri Raden Fatah dan Dewi Murtasimah kelak akan menjadi istri Raden Paku atau Sunan Giri.

Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Chandrawati dikaruniai lima orang anak yaitu Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang serta Syarifuddin atau Raden Kosim.

2. Perjalanan dakwah Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Raden Rahmat atau Sunan Ampel pertama kali datang ke pulau Jawa pada tahun 1443 Masehi untuk menemui bibinya yang tidak lain adalah istri Prabu Brawijaya tersebut. Pada mulanya, Raden Rahmat diminta untuk mengajarkan budi pekerti bagi para bangsawan dan rakyat jelata yang ada di sana.

Selama beliau tinggal di lingkungan Majaphit, akhirnya membuat Raden Rahmat dijodohkan dengan putri Majapahit yakni Dewi Condrowati.

Adapun metode dakwah yang diterapkan Raden Rahmat menggunakan pendekatan intelektual dan penalaran logis. Jadi, beliau menyebarkan dakwah dengan memberikan pemahaman wacana intelektual serta melakukan diskusi cerdas, kritis sekaligus masuk akal untuk diterima masyarakat luas.

Falsafah dakwah Sunan Ampel bertujuan untuk memperbaiki segala kerusakan terkait akhlak masyarakat yang ada pada masa itu. Adapun falsafah yang begitu kental dalam ingatan masyarakat luas terkait dakwah beliau ialah Moh Limo yakni Moh Mabok, Moh Main, Moh Wadon, Moh Madat dan Moh Maling.

3. Wafatnya Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel atau Raden Rahmat wafat pada tahun 1481 Masehi dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.


Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

wali songo : sunan bonang
wali songo : sunan bonang

1. Kelahiran Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Urutan ketiga dari sembilan wali yang menyebarkan ajaran agama islam di nusantara ialah Sunan Bonang. Sunan Bonang lahir dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim pada tahun 1465. Sunan Bonang merupakan anak dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila atau Dewi Chandrawati. Jadi, bisa dikatakan bahwa Sunan Bonang adalah cucu dari Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Sunan Bonang merupakan kakak dari Sunan Drajad atau Raden Qasim. Sejak kecil Sunan Bonang sudah menuntut ilmu agama Islam di Samudera Pasai (Aceh) dan menjadi murid dari Syekh Awwawul Islam serta beberapa ulama besar lainnya.

Semasa hidupnya, Sunan Bonang diketahui hanya menikahi satu perempuan yaitu Dewi Hirah dan dengannya, lahirlah 3 orang anak yakni Dewi Ruhil, Jayeng Katon dan Jayeng Rono. Adapun Dewi Hirah merupakan putri dari Raden Jakandar.

2. Perjalanan dakwah Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Perjalanan dakwah Sunan Bonang dimulai ketika beliau merasa cukup untuk menimba ilmu agama Islam di Negeri Pasai. Daerah yang menjadi tujuan perjalanan dakwah Sunan Bonang pertama kali di pulau Jawa ialah Tuban. Di daerah terebut, Sunan Bonang mendirikan pondok pesantren yang digunakan sebagai pusat dakwah serta penyebaran agama Islam melalui penyesuaian adat Jawa.

Sunan Bonang menyiarkan ajaran agama Islam melalui gamelan bonang yang merupakan alat kesenian daerah setempat yang mana terbuat dari bahan kuningan serta berbentuk bulat dan memiliki tonjolan di bagian tengahnya. Ketika alat tersebut dimainkan oleh Sunan Bonang, maka akan menghasilkan suara yang begitu merdu sekaligus memikat banyak orang.

Sunan Bonang juga pandai menciptakan lagu-lagu Islam khususnya yang ia gunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang yang dipentaskan tersebut. Lagu karya Sunan Bonang yang hingga saat ini masih terus dilantunkan ialah Tombo Ati atau Penyembuh Jiwa.

Adapun murid-murid yang menimba ilmu di pondok pesantren tesebut berasal dari berbagai daerah di nsuantara seperti Tuban itu sendiri, Madura, Bawean dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sunan Bonang juga diketahui turut berjasa dalam upaya mengajarkan ajaran agama Islam kepada Raden Patah. Raden Patah adalah putra dari raja Majapahit Prabu Brawijaya V.

Selain itu, Sunan Bonang dikenal ikut campur dalam pembangunan Masjid Agung Demak dan beliau sendiri adalah imam pertama di masjid terebut. Tidak heran apabila Sunan Bonang begitu dihormati dan disegani di daerah tersebut.

3. Wafatnya Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang diketahui wafat pada tahun 1525. Beberapa sumber mengatakan bahwa makan Sunan Bonang terdapat di dua tempat berbeda yaitu di Madura dan Tuban. Kabarnya, ketika Sunan Bonang wafat, ada seorang murid dari Madura yang sangat mengagumi beliau dan hendak membawa jenazah beliau ke Madura.

Selain itu, ada lagi satu murid beliau yang berasal dari Tuban juga ingin membawa jenazah beliau ke Tuban. Maka dari itulah, mereka berdua berebut jenazah Sunan Bonang. Pada akhirnya, murid yang berasal dari Madura tersebut hanya mendapatkan kain kafan dan pakaian Sunan Bonang saja.


Sunan Drajat

wali songo : sunan drajat
wali songo : sunan drajat

1. Kelahiran Sunan Drajat

Kisah wali songo berikutnya ialah tentang Sunan Drajat. Sunan Drajat lahir dengan nama Raden Syariffudin atau yang juga dikenal dengan Raden Qasim pada tahun 1470 Masehi. Sunan Drajat adalah putra dari Suna Ampel dan Dewi Chandrawati yang juga bersaudara dengan Sunan Bonang. Sunan Drajat merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Sunan Drajat memiliki nama lain yakni Sunan Mayang Madu yang mana nama tersebut diberikan oleh Sultan Demak yaitu Raden Patah.

Sunan Drajat menikah dengan Dewi Sufiyah yang merupakan putri dari Sunan Gunung Jati. Dari pernikahan tersebut, Sunan Drajat dikaruniai 3 anak di antaranya Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi dan Dewi Wuryan.

Selain menikah dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat juga menikah dengan Nyai Kemuning dan Nyai Retno Ayu Candrawati. Nyai Kemuning adalah putri dari Mbah Mayang Madu yang merupakan seorang tetua di desa Jelak, tempat dimana Sunan Drajat menyiarkan ajaran Islam. Kemudian, Nyai Retno Ayu Candrawati adalah putri dari Raden Suryadilaga, yang merupakan adipati di daerah Kediri.

2. Perjalanan dakwah Sunan Drajat

Dalam sejarah wali songo khususnya Sunan Drajat, beliau memulai dakwahnya di pesisir Gresik. Menurut cerita yang beredar, ketika Sunan Drajat hendak berlayar menuju pesisir Gresik, kapal yang ditumpanginya terhantam ombak dan membuatnya harus terombang-ambing di lautan. Namun berkat ikan cucut dan ikan cakalang, beliau bisa sampai ke pesisir Jelak, Banjarwati.

Sunan Drajat akhirnya menetap dan menikah di desa Jelak. Di sana beliau membangun  surau yang akhirnya berkembang menjadi sebuah pondok pesantren. Sunan Drajat berhasil mengubah desa Jelak yang semula merupakan desa kecil menjadi sebuah desa yang ramai dan terus mengalami perkembangan.

Selanjutnya, Sunan Drajat kembali mendirikan pondok pesantren di kawasan perbukitan selatan yang dinama Ndaem Nduwur. Di tempat tersebutlah Sunan Drajat terus menyiarkan ajaran Islam hingga menghabiskan sisa hidupnya.

Adapun metode dakwah yang dijalankan oleh Sunan Drajat hampir sama dengan Sunan Bonang yakni menggunakan alat kesenian tradisional. Sunan Drajat juga kerap menyebarkan petuahnya melalui tembang pengkur yang kemudian diiringi dengan alat musik gending.

3. Wafatnya Sunan Drajat

Sunan Drajat wafat pada tahun 1552 Masehi dan dimakamkan di Perbukitan Drajat, Paciran, Lamongan. Makam Sunan Drajat terletak pada posisi paling tinggi dan agak ke belakang. Adapun di dekat makam tersebut terdapat museum yang merupakan bangunan peninggalan dari Sunan Drajat.


Sunan Kudus

wali songo : sunan kudus
wali songo : sunan kudus

1. Kelahiran Sunan Kudus

Dari 9 wali songo, Sunan Kudus menempati urutan ke 4. Sunan Kudus lahir pada tanggal 9 September 1400an Masehi dengan nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan di Al-Quds, Palestina, Kesultanan Ustmaniyah. Sunan Kudus merupakan putra dari Sunan Ngundung, yang merupakan panglima perang Kesultanan Demak Bintoro.

Semasa hidupnya, Sunan Kudus memiliki 2 orang istri. Istri pertama Sunan Kudus merupakan putri dari Sunan Bonang yang bernama Dewi Ruhil. Istri kedua Sunan Kudus merupakan putri dari Pecattandha Terung Majapahit.

Sunan Kudus memiliki beberapa anak di antaranya Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba’Alawi Al-Husaini, Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba’Alawi Al-Husaini dan Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’Alawi Al-Husaini. Adapun Sunan Kudus banyak belajar ilmu agama Islam dengan ayahnya sendiri dan Kyai Telingsing serta Sunan Ampel.

2. Perjalanan dakwah Sunan Kudus

Perjalanan dakwah Sunan Kudus di pulau Jawa dimulai sejak beliau tiba di Kesultanan Islam Demak untuk kemudian diangkat menjadi panglima perang. Jadi, beliau melakukan dakwah di tengah-tengah masyarkat yang masih memeluk agama Hindu dan Budha.

Bukan hanya sebagai panglima perang saja, Sunan Kudus juga menjabat berbagai pekerjaan penting selama berada di Kekhalifahan Islam Demak. Adapun pekerjaan-pekerjaan tersebut di antaranya ialah sebagai berikut.

  • Penasihat Khalifah.
  • Qadhi.
  • Mufti.
  • Mursyid Tarekat.
  • Imam besar Masjid Islam Demak dan Masjid Kudus.
  • Ketua Baitulmal Wali Sembilan.
  • Ketua Pasar Islam Wali Sembilan.
  • Penanggung jawab Pencetak Dinar Dirham Islam.

Melalui peekrjaan-pekerjaan tersebut, Sunan Kudus mampu menyampaikan ajaran islam dengan beberapa metode sebagai berikut.

  • Mendekati masyarakat yang memeluk agama Hindu.
  • Mendekati masyarakat yang beragama Budha.
  • Mengubah ritual mitoni (sykuran ala Jawa) menjadi tasyakuran ala Islam.

Dakwah utama yang disampaikan oleh Sunan Kudus ialah mengutamakan sikap tenang dan halus agar masyarakat senantiasa dapat menerima ajaran Islam tanpa paksaan. Suksesnya dakwah Sunan Kudus ditandai dengan beberapa peninggalan yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang di antaranya sebagai berikut.

  • Masjid dan Menara Kudus.
  • Keris Cintoko.
  • Dua tombak Sunan Kudus.
  • Tembang Asmarandana.
  • Penghormatan untuk tidak menyembelih sapi untuk berkurban saat Idul Adha.

3. Wafatnya Sunan Kudus

Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 Masehi ketika beliau masih menjadi imam sholat Subuh di Masjid Menara Kudus pada posisi sujud. Jenazah Sunan Kudus pun dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.


Sunan Giri

wali songo : sunan giri
wali songo : sunan giri

1. Kelahiran Sunan Giri

Urutan ke 5 dari sembilan wali ialah Sunan Giri. Adapun nama asli wali songo satu ini adalah Raden Paku. Oleh ibu angkatnya, Sunan Giri dinamai Joko Samudro serta oleh gurunya, Sunan Giri dinamai Syeikh Maulana Ishaq.

Sunan Giri sebetulnya merupakan seorang putra dari seorang Mubaligh wilayah Asia Tengah yang mana telah menikah dengan Dewi Sekardadu, putri raja Hindu di Blambangan Timur daerah Jawa Timur.

Saat dewasa, Sunan Giri menikah dengan Dewi Murtasiah binti Sunan Ampel dan Dewi Wardah binti Ki Ageng Bungkul. Adapun anak-anak dari Sunan Giri di antaranya Sunan Dalem, Sunan Waruju, Nyai Ageng Seluluhur, Sunan Kulon, Sunan Rohbayat, Sunan Kidul, Pangeran Pasirbata, Ratu Gede Saworasa, Ratu Gede Kukusan dan Sunan Tegalwangi.

2. Perjalanan dakwah Sunan Giri

Cerita wali songo Sunan Giri dari segi dakwahnya dimulai saat ayahnya mengunjungi wilayah Jawa Timur untuk menyebarkan ajaran agama Islam di sana. Sempat kemudian pergi jauh dari Jawa, Sunan Giri akhirnya kembali lagi ke pulau Jawa dan mendirikan pesantren sesuai dengan amanah ayahnya. Adapun nama daerah tempat dibangunnya pesantren tersebut ialah Sidomukti.

Pondok pesantren yang diberi nama Pondok Giri tersebut berhasil dibangun dalam waktu singkat yakni 3 bulan saja dan banyak mendapatkan perhatian bukan hanya dari masyarakat pulau Jawa saja melainkan hingga ke luar pulau seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Pondok pesantren tersebut akhirnya berkembang menjadi Kerajaan Giri yang kemudian berhasil menguasai wilayah Gresik dan sekitarnya.

Sunan Giri banyak menciptakan berbagai permainan untuk anak-anak di antaranya jelungan, jor,gula-ganti, lir-ilir dan cublak suweng. Selain permainan untuk anak-anak, Sunan Giri juga turut serta dalam emnciptakan beberapa gending seperti Asmaranda dan Pucung.

3. Wafatnya Sunan Giri

Sunan Giri wafat pada tahun 1506 Masehi ketika menginjak usia 63 tahun. Sunan Giri dimakamkan di masjid Sunan Giri, Batu, Malang.


Sunan Kalijaga

wali songo : sunan kalijaga
wali songo : sunan kalijaga

1. Kelahiran Sunan Kalijaga

Sunan wali songo berikutnya ialah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga lahir dengan nama Raden Said pada tahun 1450 Masehi. Sunan Kalijaga merupakan anak dari adipati Tuban yakni Tumenggung Wilatika atau yang lebih familiar dengan nama Raden Sahur. Tahukah Anda bahwa Sunan Kalijaga memiliki begitu banyak nama lain di antaranya Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban hingga Raden Abdurrahman.

Asal usul wali songo berupa nama Sunan Kalijaga tersebut konon didapat karena kebiasaan beliau yang gemar berdiam diri di sungai atau yang lebih dikenal dalam bahasa Jawa sebagai jogo kali. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa sebelum menjadi wali songo, Raden Said dahulunya begitu gemar merampok hasil bumi milik orang-orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang miskin.

Yang membuat sunan dari wali songo yakni Raden Said mau berubah menjadi lebih baik ialah Sunan Bonang. Bahkan nama yang dimiliki oleh Raden Said diberikan oleh Sunan Bonang.

2. Perjalanan dakwah Sunan Kalijaga

Perjalanan dakwah Sunan Kalijaga dibersamai oleh sahabat sekaligus gurunya, Sunan Bonang. Maka dari itu, tidak heran jika Sunan Kalijaga memiliki paham keagamaan yang serupa dengan Sunan Bonang yakni sufistik berbasis salaf dan bukan sufi panteistik.

Sunan Kalijaga sangat toleran terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, ia menyebarkan ajaran agama Islam dengan menggunakan media budaya lokal. Adapun budaya lokal yang digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan dakwah di antaranya seni ukir, wayang, seni suluk dan gamelan. Adapun seni suluk atau lagu suluk ciptaan Sunan Kalijaga yang terkenal sampai sekarang ialah Gundul-Gundul Pacul.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga memiliki berbagai ilmu yang kebanyakan diwarisi oleh Sunan Bonang. Adapun ilmu-ilmu tersebut di antaranya ilmu asmak kidung, ilmu asmak sunge rajah, ilmu sapu angin,ilmu singkir sengkolo, aji tapa pendem, aji kungkum dan ilmu sapu jagad.

3. Wafatnya Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga wafat di Kadilangu, Demak dan dimakamkan di sana juga. Hingga saat ini makam Sunan Kalijaga masih tetap ramai dikunjungi banyak kalangan. Makam Sunan Kalijaga dijadikan sebagai tujuan ziarah wali songo bagi banyak orang.


Sunan Muria (Raden Umar Said)

wali songo : sunan muria
wali songo : sunan muria

1. Kelahiran Sunan Muria (Raden Umar Said)

Wali songo dan nama aslinya berikutnya ialah Sunan Muria. Sunan Muria lahir dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Sunan yang juga memiliki nama kecil Raden Prawoto ini merupakan anak dari Sunan Kalijaga  dan Dewi Saroh. Konon nama Sunan Muri diambil dari nama gunung yang ada di sebalah utara kota Kudus, Jawa Tengah.

Ketika menginjak masa dewasa, Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah yakni putri dari Sunan Ngundung, yang merupakan putra Sultan di Mesir. Dari pernikahan tersebut, Sunan Muria dikaruniai putera bernama Pangeran Santri atau Sunan Ngadilangu.

Selain itu, Sunan Muria juga diketahui sempat mempersunting Dewi Roroyono yang begitu tersohor kecantikannya. Untuk menyimak sejarah wali songo lengkap, Anda bisa menemukannya di buku sejarah Islam atau buku-buku lainnya yang berkaitan erat dengan kisah sembilan wali tersebut.

2. Perjalanan dakwah Sunan Muria (Raden Umar Said)

Cara dakwah wali songo atau metode dakwah khususnya yang dilakoni Sunan Muria ialah dengan menerapkan rasa toleran terhadap rakyat jelata. Selain itu, Sunan Muria juga menerapkan dakwah dengan akulturasi budaya setempat. Hal ini terbukti dari adanya kenduri yang tidak lagi membakar kemenyan melainkan dengan melatunkan shalawat dan do’a ahli kubur.

Dalam penyebaran ajaran agama Islam, Sunan Muria juga menggunakan kesenian gamelan dan wayang. Sunan Muria memainkan pewayangan dengan menggunakan karakter-karakter yang membawa pesan-pesan Islam seperti kisah Dewa Ruci, Petruk dadi Ratu, Mustakaweni, Semar Amabarang Jantur hingga Jimat Kalimasada.

Di samping itu, Sunan Muria juga banyak menciptakan tembang Jawa. Adapun tembang Jawa ciptaan Sunan Muria yang tetap terus eksis hingga sekarang ialah tembang Sinom dan Kinanthi.

3. Wafatnya Sunan Muria (Umar Said)

Sunan Muria wafat pada tahun 1551 Masehi dan dimakamkan di Kudus pada area Masjid Muria.


Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

walisongo : sunan gunung jati
walisongo : sunan gunung jati

1. Kelahiran Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Silsilah wali songo yang terakhir ialah Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati lahir denan nama Syarif Hidayatullah atau Sayyid Al-Kamil pada tahun 1448 Masehi. Beliau adalah anak Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang, yang mana merupakan seorang putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.

Semasa hidupnya, Sunan Gunung Jati memiliki enam orang istri. Istri pertama beliau adalah Nyi Gedeng Babadan, yang merupakan putri dari Maulana Huda. Namun sayangny dari pernikahan tersebut beliau belum mendapatkan keturunan. Istri selanjutnya ialah Nyi Rara Jati, Nyi Mas Pakungwati, Nyi Tepasari atau Rara Tepasan, Nyi Kawung Anten dan Syarifah Baghdadi atau Ong Tien Nio.

2. Perjalanan dakwah Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Perjalanan dakwah Sunan Gunung Jati di pulau Jawa dimulai pada tahun 1470. Dalam menyebarkan ajaran agama Islam, Sunan Gunung Jati senantiasa memberikan ajaran utama tentang dasar ilmu agama Islam dan dasar ilmu kehidupan.

Adapun nilai-nilai yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati di antaranya nilai-nilai ketakwaan dan keyakinan terhadap Allah SWT, nilai-nilai kedisiplinan, nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan, nilai-nilai kesopanan dan tata krama serta nilai-nilai kehidupan sosial.

3. Wafatnya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati wafat pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriyah atau 1568 Masehi yakni pada saat beliau menginjak usia 120 tahun. Makam wali songo Sunan Gunung Jati berada di Gunung Jati, yang membuatnya lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Untuk melihat gambaran perjuangan para wali songo, Anda bisa melihatnya melalui film wali songo yang sudah banyai dirilis di negeri ini.