Perbedaan Saham dan Obligasi

3 min read

Perbedaan saham dan obligasi beserta contoh

Jelaskan perbedaan saham dan obligasi!’ Pasti pertanyaan seperti itu pernah kita lalui saat mengerjakan soal ekonomi dasar. Dalam dunia Manajemen khususnya manajemen keuangan pembahasan ini juga sering diperbincangkan.

Saham dan obligasi biasanya berbentuk dalam sebuah kertas yang menyatakan suatu aset perusahaan dan tertera jumlah nominal tertentu yang disahkan oleh perusahaan dan memiliki nilai hukum.

Pemegang saham, berarti berhak ikut andil dalam memiliki aset perusahaan dan semakin besar jumlah sahamnya maka semakin kuat untuk ikut mengambil keputusan suatu kebijakan perusahaan.

Saham diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT (Perseroan Terbatas) dan pada UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Sedangkan obligasi diatur dalam Permen No. 4 Tahun 1993 tentang Obligasi Perusaaan Umum Pegadaian, Permen No. 60 Tahun 1992 tentang Obligasi Perusahaan Umum (PERUM) Listrik Negara, Peraturan Menteri Keuangan No. 36/PMK.06/2006, dan lain-lain.

Pengertian Saham dan Obligasi

Sebelum membahas perbedaan saham dan obligasi, sebaiknya Anda ketaui terlebih dahulu pengertian keduanya, agar lebih mudah menemukan dan memahami perbedaannya. Saham adalah suatu bentuk surat dengan nilai yang berharga sebagai tanda bukti kepemilikkan terhadap aset perusahaan dengan jumlah tertentu.

Sedangkan obligasi adalah suatu bentuk surat hutang sebagai tanda bukti bahwa suatu perusahaan menerima dana modal dari pemilik modal dengan jumlah yang telah ditetapkan. Penerbit obligasi disebut dengan debitur, sedangkan pemegang obligasi disebut kreditur, dan kopun obligasi adalah besaran bunga pinjaman yang harus dibayarkan beserta jumlah pokoknya.

Perbedaan Saham dan Obligasi

Apa perbedaan saham dan obligasi? Perbedaan saham dan obligasi cukup banyak, sesuai dengan fungsi utama masing-masing keduanya yang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam perbandingan perbedaan diantara keduanya. Perlu diketahui perbedaan saham dan obligasi adalah terletak pada fungsi, jangka waktu, asal penghasilan, besaran laba, ketentuan perpajakan, fluktuasi harga, hak suara pemegang saam dan obligasi, dan ketentuan hak klaim saat terjadi likuidasi (kebangkrutan).

perbedaan saham dan obligasi
perbedaan saham dan obligasi

Pada artikel ini perbedaan saham dan obligasi beserta contoh akan dijelaskan secara terpisah. Adapun salah satu perbedaan saham dan obligasi beserta contoh, salah satunya adalah terletak pada pembagian pendapatan atau laba. Contohnya, investor pemegang saham dalam 10 tahun pertama mendapatkan keuntungan 20 juta rupiah setiap tahunnya. Namun, saat tahun ke 11 mengalami penurunan menjadi 15 juta rupiah karena laba perusahaan yang sedang turun. Sedangkan obligasi, contohnya dalam 5 tahun pertama adalah sebesar 5 juta rupiah, namun pada tahun keenam mengalami penurunan drastis menjasi 2 juta rupiah karena inflasi yang sedang tinggi. Di bawah ini terdapat tabel perbedaan antara saham dan obligasi.

Tabel perbedaan saham dan obligasi diringkas dalam bentuk berikut ini :

Tabel Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham Obligasi
Fungsi Sebagai tanda bukti kepemilikkan suatu aset perusahaan yang memiliki besaran yang ditetapkan Sebagai tanda bukti atas pengakuan hutang suatu perusahaan terhadap pemberi modal dengan jumlah tertentu
Jangka waktu Tidak memiliki keterbatasan waktu dalam penggunaannya Memiliki waktu yang terbatas dengan ketetapan tanggal jatuh tempo
Asal penghasilan Pemegang saham mendapatkan bagian pendapatan perusahaan dengan jumlah yang tidak menentu (tergantung jumlah keuntungan yang didapatkan perusahaan) Pemegang saham mendapatkan bunga dengan jumlah yang ditetapkan
Besar keuntungan Tergantung besaran keuntungan perusahaan Penghasilan tetap stabil dan sesuai yang ditetapkan tanpa terpengaruh oleh untung rugi suatu perusahaan tersebut
Sisi perpajakan Pembagian keuntungan kepada pemilik saham adalah setelah terpotong pajak Tanpa pajak, bunga obligasi sudah bisa dibagikan kepada pemegang bunga obligasi
Fluktuasi harga Harga saham dipengaruhi oleh kondisi ekonomi mikro dan makro sehingga bersifat fluktuatif Harga obligasi cenderung stabil namun sensitive terhadap perubahan inflasi dan bunga
Hak suara atas perusahaan Pemegang saham mempunyai hak memberikan suara terhadap kebijakan perusahaan Pemegang obligasi tidak mempunyai hak memberikan suara terhadap kebijakan perusahaan
Jika terjadi likuidasi (kebangkrutan) Hak klaim inferior (hanya sisa aset perusahaan saja setelah hutang terlunasi) kepada pemegang saham diberikan saat terjadi likuidasi. Hal ini berisiko kepada pemegang saham bahwa akan ada kemungkinan kehilangan seluruh modal yang ditanamkan di perusahaan. Hak klaim kepada pemegang obligasi bisa dilakukan lebih dini dengan mendapatkan sebagian/seluruh aset perusahaan.

Adapun perbedaan saham dan obligasi lainnya adalah bahwa saham sifatnya menanamkan modal, sedangkan obligasi meminjamkan uang. Selain itu, pemegang saham bisa menjadi bagian dalam perusahaan, maka dari itu pemegang saam mendapatkan hak suaranya atas suatu kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan. Berbeda dengan pemegang saham, pemegang obligasi hanya mendapatkan bunga saja tanpa hak suara. Risiko obligasi juga termasuk yang paling tinggi apabila dibandingkan dengan menanamkan modal di perusahaan atau dibandingkan dengan jenis hutang lainnya.

 

Baca Juga : Pengertian Deviden, Jenis, dan Cara Menghitung

 

Persamaan Saham dan Obligasi

Apabila ada perbedaan, pasti ada juga persamaan. Persamaan saham dan obligasi memang tidak banyak dan tidak semua jenis saham memiliki persamaan dengan obligasi. Anya saham jenis preferen saja yang memiliki kemiripan dengan sistem obligasi. Persamaan saham dan obligasi diantara sebagai berikut

  1. Hak klaim terhadap laba dan aktiva oleh pemilik saham dan obligasi dengan bentuk uang atau aset lainnya dari perusahaan pada masa yang akan datang dengan penetapan tanggal transaksi secara tegas atau dapat diminta saat sudah jatuh tempo.
  2. Pendapatan yang stabil selama ada sekuritas. Saham yang memiliki kestabilan pendapatan seperti obligasi adalah saham preferen.
  3. Hak tebus terhadap uang sebelum masa tunai
  4. Konvertibiltas yang bisa dilakukan oleh emiten dan pemilik sekuritas dengan menukarkan saham preferen atau menukarkan obligasi dengan bentuk lainnya.

 

Baca Juga : Cara Bermain Saham

 

Contoh Saham dan Obligasi

Contoh saham dan obligasi berdasarkan jenisnya adalah, terdapat 2 jenis obligasi, yaitu obligasi korporasi dan obligasi pemerintah dalam bentuk Program Rekapitulasi Perbankan, Surat Utang Negara (SUN), Obligasi Ritel Indonesia (ORI), dan Surat Berarga Syariah Negara. Sun biasaya digunakan untuk membayar defisit APBN yang didasari prinsip syariah. Sama dengan fungsi SUN, ORI juga digunakan untuk membayar defisit APBN namun dalam jumlah yang kecil. Sedangkan untuk saham, perusahaan akan membagi aset-aset perusahaannya menjadi saham yang kemudian dijual kepada investor di pasar terbuka atau dengan istilah IPO (Initial Public Offering).

Sedangkan contoh saham dan obligasi dilihat dari perbedaan kasusnya adalah, Bahwa saham berupa kertas atau surat dengan nominal jual tertentu. Lebih jelasnya, sebuah perusahaan memiliki 1000 lembar saham dengan masing-masing bernilai 50 ribu. Kemudian investor X membelinya sebanyak 250 lembar. Maka, investor X berhak memiliki laba sebesar 25% dari laba bersih perusahaan. Adapun perbedaan contoh kasusnya dengan saham, obligasi memiliki nilai tertentu dengan kupon bunga yang telah ditetapkan. Misalnya, obligasi sebesar 1 juta rupiah dengan kupon 2% dengan bayaran 1 kali  setiap tahun. Sehingga nilai obligasinya adalah 1 juta 20 ribu rupiah. Pembayaran obligasi dilakukan saat jatuh tempo.

Obligasi dan saham, keduanya memiliki peran penting dalam keuangan. Semakin besar suatu perusahaan maka nilai jual sahamnya juga semakin tinggi. Begitupula dengan obligasi yang harus dibayarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *