Perbankan Syariah di Indonesia : Sejarah, Konsep, Prinsip, Hukum

11 min read

perbankan syariah

Perbankan syariah saat ini telah menjadi sistem keuangan populer dan dapat diandalkan di dunia selama lebih dari tiga dekade. Islam sebagai agama sangat jelas melarang riba – bunga, sehingga prinsip dasar perbankan syariah adalah larangan transaksi berbasis riba (bunga ).

Pada artikel kali ini Jurnal Manajemen akan membahas secara lengkap mengenai perbankan syariah di Indonesia. Simak ulasan berikut ini :

 

Baca Juga : Sistem Ekonomi Islam (Syariah) : Prinsip, Hukum, Tujuan, Dll

 

Apa yang dimaksud dengan bank syariah ?

Bank pada dasarnya adalah badan usaha  yang melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan atau kredit, dengan kata lain melaksanakan fungsi intermediasi keuangan. Berdasarkan sistem operasionalnya, sistem perbankan di Indonesia ada dua macam, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Perbankan syariah dan konvensional  menawarkan layanan dan program yang berbeda kepada para nasabah.

Pengertian bank syariah secara umum adalah bank yang kegiatan operasionalnya berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam.  Setiap aktivitas bank syariah selalu mengikuti prinsip-prinsip yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam. Prinsip bank syariah yang sesuai dengan hukum Islam antara lain bebas dari unsur riba, maysir, gharar, dan jual beli barang haram.

Berbeda dengan bank konvensional yang menerapkan sistem bunga, bank syariah lebih mengutamakan sistem bagi hasil, sistem sewa, dan sistem jual beli yang bebas riba sama sekali. Konsep utama perbankan syariah adalah larangan pengumpulan bunga dan pemanfaatannya untuk tujuan bisnis.

Perbankan Syariah Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah pendapat para ahli ekonomi Islam tentang perbankan syariah :

  1. Menurut Sudarsono

Bank syariah adalah lembaga keuangan yang memberikan layanan jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

  1. Menurut Muhammad Syafi’i Antonio

Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah Islam dan tata cara dalam operasinya berdasarkan pada ketentuan Al Qur’an dan Hadits.

  1. Menurut Muhammad (2002) dalam bukunya Manajemen Bank Syariah

Bank syariah adalah bank yang dalam melakukan aktivitas usahanya meninggalkan masalah riba. Bank syariah juga menjalankan prinsip keadilan, kemaslahatan dan kejujuran, serta bebas dari unsur-unsur yang bersifat spekulatif dan tidak produktif, antara lain perjudian (maysir), hal-hal yang meragukan (gharar), maupun hal-hal yang merusak (bathil) serta memanfaatan uang sebagai alat tukar.

  1. Menurut Siamat Dahlam

Bank Syariah adalah bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang didasarkan pada Al Qur’an dan Hadits.

  1. Menurut Schaik

Bank Syariah adalah suatu bentuk dari bank modern yang didasarkan pada hukum Islam, yang dikembangkan pada abad pertengahan Islam dengan menggunakan konsep bagi resiko sebagai sistem utama serta meniadakan sistem keuangan yang berdasarkan pada kepastian dan keuntungan yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah di Indonesia, dibahas pengertian perbankan syariah dan pengertian bank syariah.

  • Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, yang mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta tata cara dan proses di dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
  • Bank Syariah adalah bank yang dalam menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau hukum Islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia, seperti prinsip keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung riba, maysir, gharar, zalim dan obyek lain yang haram.

Sejarah Perbankan Syariah di Indonesia

Di Indonesia inisiatif dan diskusi-diskusi yang membahas  tentang bank syariah sebenarnya sudah mulai dilakukan pada awal tahun 1980. Meskipun Indonesia merupakan masyarakat muslim terbesar di dunia, kehadiran perbankan syariah di Indonesia baru dimulai pada awal tahun 1990-an. Pada tanggal 18-20 Agustus 1990 Majelis Ulama Indonesia (MUI) memprakarsai  untuk mendirikan bank syariah di Indonesia.  Kemudian MUI yang didukung oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim, membentuk kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia. Bank ini yang bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait.

Inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya bank syariah di Indonesia.

Bank Syariah Pertama di Indonesia

Sebagai hasil kerja tim perbankan MUI tersebut maka berdirilah bank syariah pertama di Indonesia, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang mana sesuai akte pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 November 1991. Dan sejak tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia resmi beroperasi sebagai bank yang dalam kegiatan usahanya menggunakan prinsip bagi hasil tanpa bunga.

Saat terjadi krisis moneter di Indonesia pada tahun 1997 dan 1998, Bank Muamalat Indonesia (BMI) tidak terlalu terkena dampaknya. Para bankir melihat kenyataan bahwa Bank Muamalat Indonesia adalah satu-satunya bank syariah di Indonesia yang tahan terhadap krisis moneter.

Dasar Undang-Undang Perbankan Syariah di Indonesia

Pada tahun 1998, pemerintah bersama DPR melakukan penyempurnaan UU Nomor 7/1992 menjadi UU Nomor 10 Tahun 1998, yang secara tegas menyatakan bahwa terdapat dua sistem dalam perbankan di Indonesia,yaitu sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah.

UU Nomor 10 Tahun 1998 tersebut menjadi landasan untuk mempertegas eksistensi bank syariah di Indonesia. Hal ini mendorong masyarakat perbankan di Indonesia untuk mendirikan bank syariah lainnya. Pada tahun 1999 lahirlah bank umum syariah yang bernama Bank Syariah Mandiri yang merupakan akuisisi dan konversi  dari PT. Bank Susila Bakti oleh PT. Bank Mandiri Tbk.

Dalam perjalanannya Bank Syariah Mandiri dengan cepat mengalami perkembangan, yang  kemudian diikuti oleh pendirian beberapa bank syariah lainnya. Bank-bank umum lainnya berusaha memberikan layanan syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Permata, dan bank-bank lainnya

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bank syariah di Indonesia, kini perbankan syariah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008. Sehingga industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang kuat yang akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat di masa yang akan datang. Dan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.

Konsep Dasar dan Prinsip Bank Syariah

Bank Syariah adalah bank yang kegiatan operasionalnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Prinsip-prinsip  syariah tersebut mengacu pada syariah Islam yang berpedoman Al Quran dan Hadist.

Dalam UU Nomer 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dijelaskan bahwa prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Jadi mengacu pada UU perbankan syariah tersebut maka bank syariah menjunjung tinggi prinsip keadilan dan keseimbangan, kemaslahatan, universalisme, serta bebas dari unsur  riba, gharar, maysir, dan obyek lain yang haram. Bank syariah juga mempunyai fungsi sosial sebagaimana fungsi seperti lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada lembaga pengelola zakat.

Hal yang Tidak Boleh Ada dalam Perbankan Syariah

Dalam operasionalnya bank syariah harus bebas dari unsur-unsur sebagai berikut :

Maysir

Arti kata maysir adalah gampang/mudah, yang berarti memperoleh sesuatu dengan sangat mudah dengan tanpa kerja keras. Maysir juga sering dikenal dengan perjudian karena dalam perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan mudah, di mana ada satu pihak yang diuntungkan dan ada pihak lain yang dirugikan.

Jadi dalam perjudian, seseorang bisa dalam kondisi untung atau bisa dalam kondisi rugi.  Perjudian tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan keseimbangan sehingga diharamkan dalam Islam sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, maysir, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah : 90)

Gharar :

Menurut bahasanya gharar artinya pertaruhan. Dalam kajian hukum Islam, gharar berarti sesuatu yang mengandung ketidakjelasan, keraguan, tipuan, atau tindakan yang bertujuan untuk merugikan orang lain. Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya atau di luar jangkauan termasuk dalam transaksi gharar. seperti  membeli ikan yang masih dalam air, membeli burung masih di udara atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya.

Dalam sistem jual beli gharar ini dilarang karena terdapat unsur mengambil keuntungan dengan cara bathil. Sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut :

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yg lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dgn (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah : 188).

Riba

Menurut bahasa, riba adalah tambahan, kelebihan, pertumbuhan atau peningkatan. Jadi riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Dalam transaksi yang mengandung riba,terdapat penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Jadi secara umum riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil yang bertentangan dengan prinsip muamalat Islam.

Para ulama di dunia sepakat bahwa riba hukumnya haram. Sangatlah penting bahwa di antara umat muslim khususnya di Indonesia tidak terdapat perbedaan pendapat mengenai pengharaman riba dan semua mazhab muslim berpendapat bahwa transaksi yang mengandung riba adalah dosa besar. Hal ini dikarenakan sumber utamanya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Sebagaimana dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah, ayat 275 :

Orang-orang yg makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yg kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yg demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dgn riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yg telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yg kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Jadi diharamkan transaksi riba dalam keadaan apapun dan dalam bentuk apapun, atas pemberi piutang dan juga atas orang yang berhutang, dengan memberikan bunga, baik yang berhutang itu adalah orang miskin atau orang kaya, masing-masing dari mereka menanggung dosa besar, bahkan dilaknat oleh Allah SWT.

Hukum Riba

Ayat Al-Qur’an lain yang menjelaskan tentang haramnya riba, diantaranya:

  • Surat An-Nisa, ayat 161:

Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya & karena mereka memakan harta orang dengan cara yg tidak sah (bathil). Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka azab yg pedih.

  • Surat Ali ‘Imran, ayat 130:

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

  • Surat Ar-Rum, ayat 39:

Dan sesuatu riba (tambahan) yg kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

Jenis-jenis Riba

 Menurut para ulama fiqih, riba secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba hutang piutang dan riba jual beli. Riba hutang piutang dibagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah, sedangkan riba jual beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.

  1. Riba Qardh,

yaitu tambahan manfaat atau tingkat kelebihan/keuntungan tertentu yang disyaratkan terhadap kreditur (yang meminjami). Contoh : Budi meminjam uang sebesar Rp. 50.000 kepada Agus. Dengan syarat Agus mengharuskan Budi mengembalikan hutangnya sebesar Rp. 60.000. maka tambahan Rp. 10.000 tersebut adalah riba Qardh.

  1. Riba Jahiliyah

Hutang dibayar melebihi dari pokoknya, karena peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada saat jatuh tempo/waktu yang sudah ditetapkan. Jika waktu pelunasan hutang semakin tertunda maka penambahan hutang yang harus dibayarkan semakin bertambah besar (berlipat ganda).

Contoh : Agus berhutang kepada Budi uang sejumlah Rp. 1.000.000,- dengan tempo 1 bulan. Dan saat jatuh tempo, ternyata Agus belum mampu melunasinya, maka Budi bersedia menunda tagihannya dengan syarat Agus memberikan tambahan bunga setiap bulan 5 % dari jumlah hutangnya. Tambahan 5% tersebut adalah riba jahiliyah.

  1. Riba Fadhl

yaitu riba yang terjadi karena tukar menukar barang sejenis dengan tidak sama takaran atau kadarnya yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan. Dalam hal ini kualitas dan kuantitasnya tidak memenuhi kriteria dan penyerahannya tidak dilakukan secara tunai. Pertukaran jenis ini mengandung ketidakjelasan kedua belah pihak terhadap barang yang dipertukarkan.

Contoh : seseorang menukar 15 kilogram kurma kualitas jelek dengan 10 kilogram kurma kualitas bagus. Meskipun kualitas keduanya berbeda, tetap harus takarannya sama. Agar tidak ada yang dirugikan maka kurma yang bagus harus ditukar dengan kualitas yang sama dalam takaran yang sama.

Dalam dunia  perbankan, riba fadhl dapat ditemui dalam transaksi jual beli Valuta Asing yang tidak dilakukan secara tunai.

  1. Riba Nasi’ah

 yaitu riba yang terjadi karena penundaan pembayaran pada saat tukar menukar dua barang yang tergolong komoditi ribawi (investasi emas, perak, kurma, gandum dan garam), baik sejenis atau berlainan jenis dengan menunda penyerahan salah satu barang yg dipertukarkan atau kedua-duanya.

Contoh : Saat Agus membeli cincin seberat 10 gram, oleh penjualnya disyaratkan untuk membayar tahun depan dengan cincin emas seberat 12 gram, dan jika terlambat satu tahun lagi, maka tambah 2 gram lagi menjadi 14 gram dan seterusnya.

Dalam perbankan, riba nasi’ah dapat ditemui dalam pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito, tabungan dan lain sebagainya.

Apa saja prinsip bank syariah?

Untuk menjaga agar operasional bank syariah tetap sesuai dengan prinsip syariah Islam, bank syariah memiliki dewan pengawas yang terus mengawasi agar bank tetap beroperasi sesuai koridor. Dalam hal ini setiap mengeluarkan produk, maka bank syariah harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari Dewan Syariah Nasional (DSN), setelah itu baru ke OJK.

Prinsip syariah adalah aturan/ketentuan berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk operasional  kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

prinsip perbankan syariah
prinsip perbankan syariah

Berikut ini adalah prinsip-prinsip operasional bank syariah yang juga merupakan produk perbankan syariah, yaitu :

  1. Mudharabah

Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai pemilik dana ( sahibul mal) mempercayakan sejumlah dana kepada  pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib) dengan konsep bagi hasil dari keuntungan yang akan diperoleh berdasarkan nisbah yang telah disepakati.

Sedangkan kerugian yang timbul adalah resiko pemilik dana sepanjang tidak ditemukan bukti bahwa mudharib melakukan penyalahgunaaan dana, kecurangan, penyelewengan atau tindakan yang tidak amanah.

Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada mudharib maka mudharabah dibedakan menjadi mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah

  1. Wadiah

Arti dari Wadiah berarti menitipkan harta/barangnya kepada pihak lain secara terang-terangan.

Wadiah adalah titipan dana nasabah kepada bank yang harus dijaga dan diambil sewaktu-waktu nasabah yang bersangkutan menghendaki. Dimana nasabah sebagai penitip dapat dikenakan biaya penitipan.

Jenis Wadiah  dibedakan menjadi dua, yaitu Wadiah Yad Dhamanah dan Wadiah Yad Amanah.

Dalam Wadiah Yad Dhamanah pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dana/barang titipan dengan syarat dapat diambil setiap saat diperlukan.

Sedangkan dalam Wadiah Yad Amanah penerima titipan tidak diberikan kewenangan untuk menggunakan barang/dana yang dititipkan.

  1. Musyarakah

Musyarakah atau biasa disebut syirkah adalah perjanjian kerjasama dua pihak atau lebih untuk menyertakan modal, dan mengelolanya untuk mendirikan usaha bersama, dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan awal dan jika mengalami kerugian maka akan ditanggung sesuai proporsi modal masing-masing.

  1. Murabahah

Merupakan transaksi jual beli antara dua belah pihak untuk membeli suatu barang, dimana kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayarannya. Dalam hal ini bank syariah bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual di sini adalah harga beli bank dari pemasok ditambah margin keuntungan. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai, bayar tangguh atau dengan angsuran. Murabahah ini adalah salah satu transaksi pembiayaan yang sering digunakan oleh bank syariah.

  1. Salam

Merupakan transaksi jual beli barang antara pihak penjual dan pembeli dengan pembayaran dimuka dan barang diserahkan kemudian, dengan harga yang sudah disepakati.

Dalam transaksi salam, penjual dan pembeli akan sama-sama diuntungkan.

Penjual memperoleh dana untuk proses produksi dan sudah mendapat pesanan. Sementara pembeli mendapatkan jaminan mendapatkan barang sesuai dengan jumlah, kualitas dan harga yang telah disepakati di awal.

  1. Istishna’

Dalam Istishna’ akad transaksi jual beli seperti pada prinsip Salam, tetapi pembayarannya dapat dilakukan dimuka sekaligus atau sistem cicilan. Dalam bank syariah prinsip istishna’ biasanya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi

  1. Ijarah

Ijarah adalah kegiatan penyewaan suatu barang, dengan pembayaran sewa sesuai kesepakatan. Jika pada akhir masa sewa diikuti dengan berpindahnya kepemilikan dikenal ijarah muntahhiyah bittamlik. Dimana ijarah ini memiliki harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.

  1. Wakalah

Merupakan perjanjian pelimpahan kekuasaan, pendelegasian atau pemberian mandat oleh seseorang kepada pihak lain dengan mendapat imbalan berupa fee atau komisi. Transaksi wakalah di perbankan dapat dijumpai pada penagihan, pembayaran, agensi, serta transaksi lainnya

  1. Kafalah

Prinsip ini merupakan layanan bank garansi, yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung (pihak pertama) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pembayaran pihak kedua atau yang ditanggung, dengan menerima imbalan atas jasa penjaminan tersebut.

  1. Sharf

yaitu layanan jual beli valuta asing  yang tidak sejenis dengan penyerahan pada waktu yang sama berdasarkan kurs harga saat transaksi pada saat itu.

  1. Qardh

Definisi Qardh adalah pemberian pinjaman dari bank kepada nasabah  tanpa adanya orientasi keuntungan. Pinjaman ditentukan dengan jangka waktu tertentu (sesuai kesepakatan bersama) dan pihak bank sebagai pemberi pinjaman bisa meminta ganti biaya yang diperlukan sesuai kontrak. Aplikasi prinsip qardh antara lain  dana talangan haji, pinjaman tunai, pinjaman kepada pengusaha kecil.

  1. Rahn

Pengertian Rahn adalah jaminan hutang atau gadai dari nasabah yang disertai dengan penyerahan tugas agar pihak bank menjaga barang jaminan yang diserahkan. Namun demikian jaminan tersebut tidak boleh dimanfaatkan bank. Pada saat pelunasan pinjaman, pihak bank harus mengembalikan barang jaminan kepada peminjam.

  1. Hiwalah/Hawalah

Merupakan transaksi pengalihan hutang piutang. Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazim digunakan untuk membantu supplier mendapatkan dana tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Sedangkan bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan. Sebagai contoh seorang supplier bahan bangunan menjual barang kepada pemilik proyek yang akan dibayar tiga bulan kemudian. Karena supplier butuh likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya dan bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.

Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional

Bank Syariah adalah suatu bank yang dikelola menggunakan prinsip syariah. Sedangkan bank konvensional adalah bank  yang dikelola secara konvensional, dimana menyediakan produk dan layanan transaksi pembayaran secara umum yang berpijak pada aturan serta prosedur sesuai hukum positif yang berlaku.

Secara garis besar perbedaan perbankan syariah dan konvensional adalah sebagai berikut :

  1. Aspek Hukum :

Bank syariah menggunakan prnsip syariah Islam yang berdasar atas Al-Quran dan Hadist yang sudah difatwakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sedangkan bank konvensional menggunakan hukum positif yang telah berlaku di Indonesia.

  1. Aspek Investasi :

Bank syariah hanya menerima pengajuan pinjaman untuk jenis usaha yang halal. Berbeda dengan bank konvensional yang menerima pengajuan pinjaman untuk segala jenis usaha.

  1. Aspek Orientasi :

Bank syariah berorientasi memperoleh keuntungan, mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat, sedangkan bank konvensional hanya berorientasi memperoleh keuntungan semata.

  1. Aspek Keuntungan :

Keuntungan yang diperoleh bank syariah berasal dari bagi hasil, margin keuntungan dan fee, sedangkan bank konvensional berasal dari bunga.

  1. Aspek Nasabah dan Bank :

 Hubungan antara nasabah dan bank syariah adalah sebagai mitra sehingga lebih transparan. Adapun di bank konvensional adalah sebagai  debitur dan kreditur.

  1. Aspek Keberadaan Dewan Pengawas :

Semua transaksi pada bank syariah akan diawasi oleh dewan pengawas. Pengawas dalam hal ini Dewan Pengawas Syariah (DSN). Adapun transaksi pada bank konvensial tidak diawasi oleh dewan pengawas.

Dengan adanya prinsip operasional yang berbeda dengan bank konvensional maka memberikan implikasi perbedaan pada prinsip akuntansi perbankan syariah baik dari segi penyajian maupun pelaporannya.

Apa saja bank syariah di Indonesia?

Potensi pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia yang semakin menjanjikan akan menambah lapangan kerja di sektor perbankan syariah. Banyak perguruan tinggi yang saat ini sudah membuka jurusan perbankan syariah sebagai solusi kebutuhan tenaga kerja di sektor perbankan syariah. Kebutuhan akan tenaga profesional di perbankan syariah saat ini sangat banyak.  Sehingga prospek kerja perbankan syariah akan sangat menjanjikan di masa yang akan datang.

Bagi yang sedang kuliah di jurusan perbankan syariah, saat ini banyak bahasan materi tentang perbankan syariah. Baik dari buku dan juga makalah perbankan syariah yang sudah cukup banyak tersedia.

Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan dan skema keuangan yang lebih bervariatif, bank syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel. Hal ini juga yang dapat diminati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Selain itu, Peraturan Bank Indonesia juga menegaskan bahwa bank dapat menawarkan semua produk perbankan syariah kepada masyarakat hanya setelah bank mendapat fatwa dari DSN-MUI dan memperoleh izin dari OJK.

Berbagai Perbankan Syariah di Indonesia

Perkembangan bank syariah di Indonesia saat ini sangatlah pesat. Bank syariah yang sudah mendapatkan ijin operasional dari Bank Indonesia, antara lain Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank BNI Syariah, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Panin Syariah, Bank BCA Syariah, Maybank Syariah Indonesia, Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah dll.

Beberapa perbankan syariah terbaik yang telah memberikan pelayanan dan produk terbaik kepada masyarakat Indonesia.Diantaranya yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat Indonesia, BRI Syariah, BNI Syariah dan Bank Mega Syariah.

Bahkan saat ini sudah ada beberapa bank syariah yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perbankan syariah yang terdaftar di BEI antara lain Bank Syariah Mandiri, Bank Panin Syariah, Bank BRI Syariah dan Bank Syariah Bukopin yang berencana akan go public pada tahun 2020.

Diharapkan dengan memahami prinsip syariah yang sesuai hukum Islam dalam sistem perbankan syariah, maka akan lebih menambah kepercayaan masyarakat. Terutama untuk menggunakan produk dan layanan bank syariah, terutama masyarakat muslim di Indonesia.

Oleh karena itu, perbankan syariah harus mampu melakukan inovasi terhadap produk dan layanannya. Hal ini dengan harapan bisa berkembang dan dapat menarik minat nasabah serta dapat bersaing dengan lembaga keuangan yang lain.