MUAMALAH : Pengertian, Fiqih, Hukum, Ruang Lingkup, Prinsip, Dll

8 min read

muamalah

Istilah muamalah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, yang biasanya dikaitkan dengan istilah Islami. Muamalah merupakan hal penting yang harus dipahami, khususnya pelaku ekonomi dari kalangan umat muslim. Hal ini dikarenakan mengatur sebagian besar hal yang berkaitan dalam hubungan manusia dengan manusia, menyangkut manusia berurusan dengan manusia lainnya, khususnya dalam aktivitas ekonomi.

Istilah muamalah  biasanya  juga dimaknai sebagai  hubungan sosial antar sesama manusia. Hidup seorang manusia akan dipandang lebih baik ketika bisa  memberikan  manfaat  bagi  banyak orang.

Pada kesempatan kali ini Jurnal Manajemen akan membahas secara khusus mengenai “Muamalah”. Pembahasan akan fokus pada definisi/makna, kedudukan, hukum, ruang lingkup dan prinsip. Lebih jelasnya mari simak pembahasan berikut ini :

Pentingnya Muamalah

Allah menciptakan manusia dan dunia ini bukan tanpa aturan. Ada hukum-hukum yang harus dipatuhi dalam menjalani setiap aktivitas di dunia ini, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Hukum-hukum Allah dalam muamalah pada hakikatnya adalah untuk kemaslahatan kita dan menghilangkan segala kemudharatan.

Untuk itu seseorang perlu meningkatkan kualitas muamalahnya, yang dapat dilakukan  dengan cara  mengevaluasi  dan  mengintrospeksi diri sendiri sudah sejauh  mana kita melakukan  muamalah. Selanjutnya harus berniat dan berjanji  untuk  lebih  baik  dalam  melakukan muamalah. Dan dalam  melakukan muamalah, hendaklah kita mempunyai pengetahuan atau ilmu tentang muamalah yang sedang dilakukan tersebut.

Dengan kita memahami dan berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas muamalah, maka selain mendapat pahala dan karunia dari Allah SWT, juga akan bermanfaat dalam menjaga hubungan antar manusia yang lebih harmonis serta menjaga ketertiban hidup bermasyarakat.

Muamalah merupakan praktek ajaran Islam tentang hablum minannas yang berdimensi sosial atau komunal. Ada bermacam macam muamalah. Sebagai contoh muamalah dalam kehidupan sehari-hari antara lain kegiatan jual beli, hutang piutang, sewa menyewa, kerjasama dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan bisa berjalan dengan lancar tanpa  berbagai aturan dan hukum sebagai pegangan.

Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT dan mahluk sosial sudah sepantasnya kita mempelajari, memahami dan mempraktekkan hukum muamalah yang telah diatur sesuai syariat Islam. Penerapan muamalah dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai syariat Islam, secara tidak langsung berarti kita juga telah ikut serta dalam upaya menegakkan nilai-nilai Islam yang merupakan misi sepanjang hidup setiap insan muslim.

Apa Yang Dimaksud Dengan Muamalah ?

Muamalah merupakan cabang dari  ilmu syariah dalam cakupan ilmu fiqih. Secara garis besar kegiatan muamalah mencakup dua aspek, yaitu aspek adabiyah dan madiyah.

Aspek adabiyah mencakup kegiatan muamalah yang berkaitan dengan kegiatan adab dan akhlak, misalnya menghargai sesama, saling meridhoi, hak dan kewajiban, kejujuran, kesopanan, penipuan dan sebagainya.

Sedangkan aspek madiyah adalah aspek yang berkaitan dengan kebendaan, misalnya benda yang halal, haram dan subhat untuk dimiliki, diupayakan dan diperjualbelikan, benda yang bisa mengakibatkan kemaslahatan, kemudharatan, dan lain sebagainya.

Secara Etimologi

Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang artinya saling melakukan, saling bertindak atau saling mengamalkan. Dengan demikian arti muamalah melibatkan lebih dari satu orang dalam prakteknya, sehingga akan timbul adanya hak dan kewajiban.

Sedangkan dari segi  istilah, pengertian muamalah berdasarkan fiqih mempunyai dua arti, yaitu pengertian dalam arti luas dan pengertian dalam arti sempit.

Dalam arti luas, muamalah merupakan aturan Allah yang mengatur masalah hubungan manusia dan usaha mereka dalam mendapatkan kebutuhan jasmani dengan jalan yang terbaik. Sedangkan dalam arti sempit, muamalah merupakan kegiatan tukar menukar suatu barang yang bermanfaat dengan menggunakan cara-cara yang sesuai aturan Islam.

Jadi muamalah menyangkut  perbuatan seorang manusia sebagai hamba ciptaan Allah SWT. Menurut pendapat lain, muamalah adalah hubungan kerjasama antar manusia yang dilakukan atas suatu perikatan-perikatan dan perjanjian-perjanjian yang saling meridhoi demi tercapainya kemaslahatan bersama.

Menurut Alqur’an

Ayat Alquran tentang muamalah yang sesuai kondisi ini, yaitu :

  1. An Nisa’ ayat 29 : Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yg berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu

Muamalah dalam Islam merupakan aturan-aturan dan hukum yang mengatur tata cara memenuhi kebutuhan dunia dengan cara yang benar menurut syariat Islam. Muamalah ini akan membantu kita mengetahui mana yang haram dan mana yang halal. Maka dari itu kita harus mempelajari apa saja syarat dan rukunnya, sehingga upaya kita dalam memenuhi kebutuhan dunia tidak melanggar aturan dan hukum Islam.

Berdasarkan Ilmu Fiqih

Sedangkan pengertian fiqih muamalah adalah ilmu yang berkaitan dengan muamalah, yaitu  kegiatan atau transaksi yang berdasarkan aturan-aturan dan hukum-hukum syariat, yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam kehidupannya dan didasari oleh dalil-dalil Islam secara rinci. Ruang lingkup fiqh muamalah adalah meliputi seluruh kegiatan muamalah manusia yang berupa perintah-perintah maupun larangan-larangan dalam bermuamalah,  berdasarkan hukum-hukum Islam seperti wajib, sunnah, halal, haram, makruh dan mubah.

muamalah bisnis
muamalah bisnis | source : shutterstock

Kedudukan Muamalah dalam Islam

  • Islam menetapkan aturan-aturan yang fleksibel dalam bidang muamalah, karena bidang tersebut amat dinamis, mengalami perkembangan.
  • Meskipun bersifat fleksibel, Islam memberikan ketentuan agar perkembangan di bidang muamalah tidak menimbulkan kemudharatan atau kerugian dalam masyarakat.
  • Meskipun bidang muamalah berkaitan dengan kehidupan duniawi, namun dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan ukhrawi, sehingga dalam ketentuan-ketentuannya mengandung aspek halal, haram, sah, batal, dsb.

Sumber Hukum Muamalah

Sumber hukum  fiqih muamalah  secara umum berasal dari tiga sumber utama, yaitu Al Quran dan Hadits, dan ijtihad.

  1. Al Qur’an

Seperti yang telah diketahui bahwa Al Qur’an merupakan referensi utama yang memuat  pedoman dasar bagi umat manusia. Khususnya dalam menemukan dan menarik suatu perkara dalam kehidupan. Sudah seharusnya setiap muslim selaluberpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalam Al Qur’an sebagai petunjuk agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.  Ayat tentang muamalah antara lain :

QS An Nisa’ Ayat 58 yang artinya :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

QS Al Muthaffifin ayat 1-6 yang artinya :

1). Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), 2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, 3) dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi, 4) Tidakkah orang-orang itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, 5) pada suatu hari yang besar, 6) (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.“

QS Ali Imran ayat 3 yang artinya :

Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah agar kamu mendapat keberuntungan.

  1. Hadits

Seperti yang telah diketahui bahwa Hadits merupakan sumber hukum bagi umat Islam yang kedua setelah Al Qur’an. yang digunakan oleh umat Islam sebagai panduan dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat. Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa perkataan (sabda), perbuatan, maupun ketetapan yang dijadikan sebagai landasan syari’at Islam. Hadits tentang muamalah antara lain :

“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan atas suatu kaum memakan sesuatu, maka Allah mengharamkan pula hasil penjualannya” (HR. Abu Daud)

“Janganlah kalian berbuat zhalim, ingatlah tidak halal harta seorang kecuali dengan keridhoan darinya” (HR al-Baihaqi).

Dari Abdullah bin mas’ud r.a dari Nabi SAW beliau bersabda : Riba itu terdiri 73 pintu. Yang paling ringan diantarannya adalah seperti seseorang laki-laki yang berzina dengan ibunya, dan sehebat-hebattnya riba adalah merusak kehormatan seorang muslim. (HR. Ibnu Majah).

  1. Ijtihad

Sumber hukum yang ketiga setelah Al Qur’an dan hadits adalah ijtihad, yaitu proses menetapkan suatu perkara baru dengan akal sehat dan pertimbangan yang matang,  dimana perkara tersebut tidak dibahas dalam Al Qur’an dan hadits.

Ijtihad merupakan sumber yang sering digunakan dalam perkembangan fiqih muamalah sebagai solusi terhadap suatu permasalahan yang harus diterapkan hukumnya, tetapi tidak ditemukan dalam Al Qur’an maupun Hadits.

Prinsip-Prinsip Muamalah

Hakikat diturunkannya syari’at Islam adalah mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan kerusakan, yang tercermin dalam bentuk perintah dan larangan dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Setiap bentuk perintah yang mesti dikerjakan, pasti di situ juga mengandung kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, setiap bentuk larangan yang mesti ditinggalkan, pasti juga mengandung kemudharatan bagi manusia. Walaupun seringkali hikmah dari perintah dan larangan tersebut terungkap jauh setelah dalilnya diturunkan.

Demikian pula dengan ketentuan dalam muamalah, adalah jelas untuk kemaslahatan manusia secara umum. Ketentuan-ketentuan muamalah secara syari’at Islam yang tidak akan mengabaikan aspek penting dalam kesinambungan hidup manusia.

Secara garis besar, terdapat dua prinsip dalam muamalah yakni prinsip umum dan prinsip khusus.

Prinsip Umum

Dalam prinsip umum muamalah terdapat empat hal yang utama, yaitu :

  • Hukum asal dalam muamalah pada dasarnya adalah mubah kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
  • Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan kemaslahatan / manfaat dan menghindarkan mudharat dalam masyarakat.
  • Pelaksanaan Muamalah didasarkan dengan tujuan memelihara nilai keseimbangan (tawazun) berbagai segi kehidupan, yang antara lain meliputi keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual, pemanfaatan serta pelestarian sumber daya.
  • Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai keadilan dan menghindari unsur-unsur kezaliman.

 Prinsip Khusus

Sementara itu prinsip khusus muamalah dibagi menjadi dua, yaitu yang diperintahkan dan yang dilarang. Adapun yang diperintahkan dalam muamalah terdapat tiga prinsip, yaitu :

  • Objek transaksi harus yang halal, artinya dilarang melakukan aktivitas ekonomi atau bisnis terkait yang haram.
  • Adanya keridhaan semua pihak terkait muamalah tersebut, tanpa ada paksaan.
  • Pengelolaan dana / aset yang amanah dan jujur.

Sedangkan yang dilarang dalam muamalah antara lain :

  • Riba, merupakan setiap tambahan / manfaat yang berasal dari kelebihan nilai pokok pinjaman yang diberikan peminjam. Riba juga sebagai suatu kegiatan yang menimbulkan eksploitasi dan ketidakadilan yang secara ekonomi menimbulkan dampak sangat merugikan masyarakat
  • Gharar, adalah mengandung ketidakjelasan, spekulasi, taruhan, bahaya, cenderung pada kerusakan.
  • Tadlis (penipuan), misalnya penipuan dalam transaksi jual beli dengan menyembunyikan atas adanya kecacatan barang yang diperjualbelikan.
  • Berakad dengan orang-orang yang tidak cakap dalam hokum, seperti orang gila, anak kecil, terpaksa, dan lain sebagainya.

jual beli
source : aisyahassalafiyah.blogspot.com

Ruang Lingkup Muamalah

Pada ruang lingkup fiqih muamalah meliputi seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam, baik berupa perintah maupun larangan-larangannya yang terkait dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Di atas sudah dijelaskan bahwa berdasarkan aspeknya, muamalah dibagi menjadi dua jenis, yaitu muamalah adabiyah dan madiyah.

  1. Muamalah Adabiyah

Penjelasan muamalah adabiyah adalah muamalah yang berkaitan dengan bagaimana cara tukar menukar benda ditinjau dari segi subjeknya, yaitu manusia. Muamalah adabiyah mengatur tentang batasan-batasan yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh manusia terhadap benda yang berkaitan dengan adab dan akhlak, seperti kejujuran, kesopanan, menghargai sesama, saling meridhoi, dengki, dendam, penipuan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam hidup bermasyarakat dalam mengelola suatu benda

Pada muamalah adabiyah memberikan panduan yang syara’ bagi perilaku manusia untuk melakukan tindakan hukum terhadap sebuah benda. Semua perilaku manusia harus memenuhi prasyarat etis normatif sehingga perilaku tersebut dianggap layak untuk dilakukan.

  1. Muamalah Madiyah

Sedangkan muamalah madiyah adalah muamalah yang berkaitan dengan objek muamalah atau bendanya. Muamalah madiyah menetapkan aturan secara syara’ terkait dengan objek bendanya. Apakah suatu benda halal, haram, dan syubhat untuk dimiliki, diupayakan dan diperjualbelikan, apakah suatu benda bisa menyebabkan kemaslahatan atau kemudharatan bagi manusia, dan beberapa segi lainnya.

Dengan kata lain, muamalah madiyah bertujuan untuk memberikan panduan kepada manusia bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersifat kebendaan dan bersifat sementara bukan sekedar memperoleh keuntungan semata, tetapi juga bertujuan untuk memperoleh ridha Allah SWT, dengan cara melakukan muamalah sesuai dengan aturan main yang sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan secara syara’.

Ruang lingkup muamalah yang bersifat madiyah antara lain adalah sebagai berikut :

  • Jual-beli ( bai’ )
  • Gadai ( rahn )
  • Jaminan dan tanggungan ( Kafalah dan Dhaman )
  • Pemindahan hutang ( hiwalah )
  • Pailit ( taflis )
  • Perseroan atau perkongsian ( syirkah )
  • Perseroan harta dan tenaga ( mudharabah )
  • Sewa menyewa tanah (mukhabarah)
  • Upah (ujral al-amah)
  • Gugatan (asy syuf’ah)
  • Sayembara (al ji’alah)
  • Batas bertindak (al hajru)
  • Pembagian kekayaan bersama (al qisamah)
  • Pemberian (al hibbah)
  • Pembebasan (al ibra’), damai (ash shulhu)
  • Masalah-masalah seperti bunga bank, kredit, asuransi dan masalah-masalah baru lainnya.

Ruang Lingkup Muamalah Berdasarkan Tujuan

Perlu diketahui bahwa ruang lingkup muamalah juga mencakup seluruh aspek kehidupan manusia seperti bidang ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Menurut Abdul Wahhab Khallaf, berdasarkan tujuannya, muamalah dalam Islam memiliki ruang lingkup yang meliputi :

  1. Hukum Keluarga (Ahkam Al Ahwal Al-Syakhiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan urusan keluarga dan pembentukannya yang bertujuan untuk membangun dan memelihara keluarga sebagai bagian terkecil. Meliputi hukum tentang hak maupun kewajiban suami, istri, dan anak serta hubungan keluarga satu dengan lainnya

  1. Hukum Perdata (Al Ahkam Al Maliyah)

Merupakan hukum yang mengatur hubungan individu-individu dalam bermuamalah serta bentuk-bentuk hubungannya, seperti jual beli, sewa-menyewa, hutang piutang, perjanjian, perserikatan dan lain sebagainya. Jadi hukum perdata berkaitan dengan kekayaan dan hak-hak atas pemeliharaannya sehingga tercipta hubungan yang harmonis di dalam masyarakat.

  1. Hukum Pidana (Al-Ahkam Al-Jinaiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan segala bentuk kejahatan, pelanggaran hukum dan ketentuan sanksi-sanksi hukumnya. Tujuannya adalah untuk menjaga ketentraman dan keamanan hidup umat manusia termasuk harta kekayaannya, kehormatannya, dan membatasi hubungan antara pelaku tindak pidana kejahatan dengan masyarakat maupun korban.

  1. Hukum Acara (Al-Ahkam Al-Murafa’at)

Definisi hukum acara adalah hukum yang berkaitan dengan sumpah, persaksian, tata cara mempertahankan hak dan memutuskan siapa yang terbukti bersalah, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pada hukum ini bertujuan untuk mengatur dan merealisasikan keadilan di dalam kehidupan masyarakat.

  1. Hukum Perundang-Undangan (Al-Ahkam Al-Dusturiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan perundang-undangan yang berlaku untuk membatasi hubungan hakim dengan terhukum serta menetapkan hak-hak perorangan dan kelompok.

  1. Hukum Kenegaraan (Al-Ahkam Al-Duwaliyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan hubungan antara penguasa (pemerintah) dengan rakyatnya, hubungan antar kelompok masyarakat dalam suatu negara maupun antar negara. Hukum ini bertujuan untuk mengatur mengatur hubungan di antara umat Islam dengan yang lainnya yang ada dalam suatu Negara, hubungan pemerintah dan rakyatnya serta hubungan yang terjadi antar negara pada masa damai dan masa perang.

  1. Hukum Keuangan dan Ekonomi (Al-Ahkam Al-Iqtishadiyyah Wa Al-Maliyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan hak-hak dari fakir miskin di dalam harta orang kaya, mengatur sumber keuangan negara, pendistribusian serta permasalahan pembelanjaan negara dalam rangka untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya.

Demikian sekilas tentang Muamalah, Pengertian, Prinsip dan Ruang Lingkupnya. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan referensi dalam menyusun makalah muamalah.