Sistem Ekonomi Islam (Syariah) : Prinsip, Hukum, Tujuan, Dll

8 min read

Ekonomi Islam

Mengenal Ekonomi Islam Lebih Dalam Yuk!

Ekonomi islam adalah salah satu hal yang penting untuk diketahui. Tak memungkiri, sudah sebagian negara menggunakan sistem yang satu ini. Beberapa negara besar pun tak melewatkan fokusnya pada sistem yang satu ini sebagai acuan. Untuk itu, anda perlu mengetahui lanjut soal yang satu ini. Setidaknya, anda tahu dasar atau apapun berkaitan.

Pilihan sistem yang satu ini juga memiliki detail yang perlu anda ketahui dengan baik. Hal ini karena ekonomi adalah bagian dari kehidupan manusia. Akan lebih menguntungkan saat kita bisa mengetahui dengan baik segala detail maupun pengertian yang ada tentang ekonomi basis islam yang satu ini.

Oleh karenanya artikel Jurnal Manajemen kali ini akan mengupas tuntas mengenai ekonomi islam secara menyeluruh. Anda pun bisa menyimak selengkapnya di bawah ini :

 

Baca Juga : Sistem Ekonomi Indonesia : Pengertian, Ciri-Ciri, & Penerapannya

 

Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi basis syariah atau yang paling sering disebut juga dengan Ekonomi basis Islam yakni sebuah bentuk percabangan dari Ilmu Ekonomi yang memiliki landas dari nilai-nilai Islam. Ekonomi basis syariah atau ekonomi ini melandaskan pada syariat Islam, yang asalnya dari kitab suci Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan dari Qiyas.

Untuk segala hukum yang melandasi berbagai prosedur transaksi sepenuhnya ini jelas untuk kemaslahatan masyarakat. Dan kesejahteraan masyarakat ini tak diukur dari aspek materil saja. Semua kesejahteraan masyarakat juga mempertimbangkan sisi dari dampak sosial, mental dan spiritual serta dampak-dampak yang ada pada lingkungan.

Sejarah Ekonomi Islam

Bersama dengan agama Islam masuk ke Indonesia, konsep dasar Ekonomi Islam pertama kali justru karena jalur perdagangan. Hal ini juga yang digunakan sebagai jalur masuk para pedagang muslim baik dari Gujarat, Persia, Yaman, Cina dan beberapa negara lain. Kemudian, kearifan akhlak menimbulkan sebuah referensi tersendiri bagi masyarakat pesisir.

Kemudian, hal-hal yang membuat terpikat tersebut menular ke masyarakat untuk lebih kenal dengan ajaran Islam. Segala masalah ekonomi sederhana yang terjadi pun secara alami bisa memperoleh solusi bijak dari pedagang muslim rantau maupun para ulama yang selalu menyertainya.

Kemudian, dari sinilah perselisihan dagang, kemudian hak monopoli, santun dalam berdagang, bagi waris hingga masalah pembagian harta saat perceraian. Kemudian, saat pedagang rantau ini mulai menetap dan membaur dengan warga, secara otomatis kajian ekonomi yang satu ini menjadi kajian umum.

Segala masalah ekonomi dan pemecahan pun akan semakin kompleks beriringan dengan berkembangnya tata dan sistem masyarakat yang ada di Indonesia.

Tujuan Ekonomi Islam

1.  Tujuan ekonomi basis Islam yang dirangkum dari Al-qur’an, dan mendukung jurnal ekonomi Islam pertama adalah kesejahteraan ekonomi di dalam kerangka norma moral Islam. Hal ini berdasarkan dari pemikiran surah Al-Baqarah ayat 2 dan 168, Al-Maidah ayat 87-88, dan Al-Jumu’ah ayat 10.

2. Kemudian, tujuan yang selanjutnya adalah membentuk masyarakat untuk jadi tatanan sosial yang solid, tentunya berdasarkan prinsip adil dan persaudaraan yang universal dari surah Al-Hujuraat ayat 13, Al-Maidah ayat 8, dan dari Asy-Syu’araa ayat ke 183.

3. Tujuan yang selanjutnya adalah mencapai distribusi seluruh pendapatan dan kekayaan yang adil dan rata dari surah Al-An’am ayat 165, An-Nahl ayat 71, kemudian dari surah Az-Zukhruf ayat 32.

4. Lanjutnya, menciptakan kebebasan individu yang ada di dalam konteks kesejahteraan sosial di surah Ar-Ra’du ayat 36, Luqman ayat 22.

5. Serta, menempatkan ibadah kepada Allah SWT lebih dari semuanya dan semuanya untuk Allah bukan mencari keuntungan materi. Semua amal dan perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Selain itu, melakukan aktivitas perekonomian diniatkan ibadah akan dapat hasil yang lebih daripada hanya niat untuk cari harta.

6. Menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat adalah salah satu tujuan dari ekonomi basis syariah. Hal ini tak bisa dipungkiri jika kita melakukan aktivitas ekonomi karena ingin dapat kemakmuran di dalam hidup. Dan, anda pun bisa memenuhi kebutuhan hidup dan yang lain sebagainya.

Namun dalam sistem ekonomi yang satu ini, kehidupan akhirat pun tak boleh dilupakan. Bukan tanpa sebab, hal ini karena kehidupan memerlukan kebutuhan. Namun, hal tersebut pun boleh membuat kita lupa, jika mengingat akhirat justru akan menambah rasa peka dan taat kita pada Allah SWT.

Kemudian, anda perlu tahu ada tiga macam tipe manusia yang ada di muka bumi ini. Ada satu sosok yang mementingkan dunia saja untuk memenuhi kebutuhan hidup lalu berdampak pada ibadah Allah SWT jadi kurang  diperhatikan.

Kemudian, apabila di dalam keadaan kaya, maka mereka akan senantiasa menambah. Dan menambahnya apabila rugi mereka baru ingat untuk ibadah kepada Allah SWT.

Selanjutnya, yang kedua adalah orang yang selalu ibadah hanya abdikan diri kepada Allah SWT. Selain itu, mereka yakin rezeki dari Allah SWT jadi mereka pun hanya berdoa dan tak bekerja. Hal ini sebenarnya juga dilarang karena di dalam Islam tak ada yang boleh berlebihan dalam hal apapun. Di samping itu, tetap harus bekerja dan berusaha untuk mendapatkannya.

Setelah itu, orang yang ketiga yakni orang yang ingat ibadah serta selalu berusaha. Dan yang inilah golongan ingin dicetak oleh para ekonom syariah. Hal ini karena orang ketiga yang bisa menyeimbangkan antara kehidupan dunia serta akhirat.

7. Meraih sukses ekonomi dari yang diperintahkan Allah. Hal ini karena Kegiatan Ekonomi menurut pandangan agama Islam adalah aktivitas yang bisa berikan dampak baik pada semua orang ataupun masyarakat. Dan diharapkan dengan ada ekonomi yang satu ini, bisa makmur dan sejahtera. Lalu, masyarakat bisa mencapai dan merasakan manfaatnya tersebut.

Ekonomi basis syariah sendiri, menjunjung nilai sosial. Dimana, tak ada beda status di antaranya. Kemudian, semua orang punya hak dapat dan merasakan suatu kemakmuran dan bebas dalam meningkatkan kreasi. Pada dasarnya, prinsip ekonomi basis syariah yang satu ini adalah mementingkan semua kemaslahatan umat bukan untuk mudharat.

8. Menghindari kekacauan serta kerusuhan. Hal ini bisa kita ketahui bahwa yang punya kuasa penuh atas ekonomi adalah pemerintahan negara yang dimaksud. Jadi, bisa saja atau perlu diadakan pengawasan pada kinerja pemerintah. Hal ini agar tak bisa seenaknya sendiri dalam mengatur serta kelola perekonomian yang ada di negara.

Karena, jika pemerintahan suatu negara bisa mementingkan diri sendiri, maka akan muncul penindasan ekonomi yang ada di dalamnya. Hal ini pun akan menimbulkan kehancuran dan rusak pada suatu negara. Maka dari itu, tujuan dari ekonomi basis syariah yang satu ini adalah bentuk suatu pemerintahan yang bisa atur perekonomian secara baik, benar dan adil.

Walaupun, tuntutan zaman yang makin keras dan ekonomi basis syariah tetap di keteguhannya. Yang dimaksud yaitu pertahankan nilai-nilai agama Islam yang ada di dalamnya. Kemudian, kekuatan dari ekonomi basis syariah adalah dasar hukum yang digunakan atau yang jadi acuannya.

9. Sistem ekonomi yang satu ini punya tujuan menyediakan dan ciptakan peluang-peluang yang sama, dan tentunya luas bagi semua orang. Hal ini jelas untuk peran serta dalam kegiatan-kegiatan sistem ekonomi.

10. Yang selanjutnya, punya tujuan dalam berantas kemiskinan dan penuhi kebutuhan dasar bagi semua individu masyarakat.

11. Pertahankan stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi, kemudian bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

 

Baca Juga : Pembangunan Ekonomi : Pengertian, Tujuan, Indikator, Teori, Contoh, Dll

 

Sistem Ekonomi Islam

Sebelumnya, anda perlu mengetahui tentang konsep ekonomi islam. Mungkin anda sudah mendengar kata-kata yang satu ini di berbagai transaksi bank syariah. Anda pun perlu tahu detail atau pengertian dari ekonomi syariah. Jadi, pengertiannya adalah ilmu pengetahuan sosial, yang mempelajari semua hal soal ekonomi rakyat serta diilhami oleh semua nilai Islam.

Sistem ekonomi yang satu ini jelas berbeda dengan kapitalisme, sosialisme atau soal negara kesejahteraan.Dalam beberapa tahun terakhir pun, ekonomi basis syariah yang satu ini terus menerus berkembang. Bahkan secara global, negara Arab Saudi jadi pemimpin dalam penguasaan segala aset keuangan syariah.

Setelah negara Arab Saudi, kemudian disusul oleh Malaysia, kemudian Uni Emirat Arab, dilanjutkan dengan Kuwait, negara Qatar, kemudian Turki dan negara kita, Indonesia. Maka dari itu, anda pun wajib mengetahui segala hal mengenai ekonomi basis syariah atau yang biasa disebutkan dengan ekonomi basis Islam ini.

Sistem ekonomi yang satu ini sendiri memiliki beberapa ciri-ciri yang perlu anda ketahui. Yakni yang pertama, adanya pengakuan terhadap hak dalam setiap individu. Namun, tentunya tetap dibatasi, hal ini agar tak terjadi monopoli yang merugikan masyarakat umum. Beberapa karakteristik ekonomi Islam ada di bawah ini.

Kemudian, adanya pengakuan akan hak umat ataupun hak umum, dimana hal itu akan lebih utama dibandingkan dengan hak lainnya. Selain itu, pada sistem ekonomi yang satu ini juga terdapat keyakinan bahwa manusia pun hanya memegang amanah dari yang Allah yang Maha Kuasa.

Kemudian, sistem ini juga menganut segala limpahan harta yang dimiliki manusia tersebut adalah berasal dari Allah sang Maha Segalanya. Sistem ini juga membatasi agar tak terjadi monopoli yang merugikan masyarakat umum.

Kemudian, adanya konsep halal dan haram juga jadi ciri sistem ekonomi yang satu ini, dimana semua produk baik barang dan jasa juga harus bebas dari unsur haram yang dilarang dalam Islam. Sistem sedekah, yakni jadi distribusi kekayaan secara merata dari yang kaya pada yang kurang mampu.

Kemudian, tak perbolehkan adanya bunga ataupun tambahan dari suatu pinjaman. Hal ini membuat hutang-piutang hanya memperbolehkan konsep bagi hasil. Kemudian, terdapat ciri tak boleh menimbun harta kepada umat Islam. Hal ini dianggap menghambat aliran harta dari yang kaya raya kepada yang miskin serta dianggap sebagai kejahatan besar.

Prinsip Ekonomi Islam

1. Bukan Kapitalis

Prinsip prinsip ekonomi Islam terkait hal ekonomi senantiasa terpacu dengan masalah keadilan yang ada. Islam pun tidak menghendaki ekonomi yang bisa berdampak pada munculnya kesenjangan. Misalnya saja, prinsip dasar ekonomi islam seperti ekonomi yang ada pada kapitalis mengedepankan aspek pemilik modal saja tak peduli aspek buruh.

2. Saling Tolong Menolong

Untuk yang satu itu, Islam pun memberikan aturan pada umatnya agar saling membantu dan tolong menolong. Kemudian, di dalam Islam sendiri memang terdapat istilah kompetisi ataupun bisa disebut berlomba-lomba untuk pelaksanaan kebaikan. Akan tetapi, hal tersebut tak berarti mengesampingkan aspek dari keadilan serta peduli pada sosial.

Hal ini sebagaimana perintah Allah, “Dan dirikanlah sholat, kemudian tunaikan zakat, dan taat pada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS An-Nur : 56)

Zakat, infaq, serta sodaqoh merupkan salah satu jalan Islam dalam menyeimbangkan ekonomi tersebut. Yang punya harta kaya atau berlebih, tentunya harus membantu yang lemah.

3. Produktif

Kemudian, ekonomi Islam adalah menunjukkan jika yang lemah juga harus berjuang dan beri bukti dirinya bisa keluar dari garis tak berdaya. Hal ini tentunya agar bisa atau mampu lebih produktif untuk menghasilkan rezeki dari beberapa modal yang telah diberikan.

Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 219, “Mereka tanya padamu soal khamr dan judi. Maka katakanlah pada keduanya ada dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, namun dosa keduanya lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya…”

Islam melarang umatnya menggantung nasib pada hal yang sangat tak jelas, baik tentang ikhtiar, ataupun mengandalkan peruntungan dan peluang saja. Untuk itu, Islam pun melarang perjudian serta mengundi nasib dengan anak panah. Tentunya sebagai salah satu bentuk dari segala aktivitas ekonomi.

Hal tersebut jadi salah satu proses rezeki yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini karena di dalamnya manusia tidak benar-benar mencari nafkah dan makmurkan kehidupan yang ada di bumi. Uang tersebut hanya diputar itu-itu saja, membuat malas, tak produktif dari hasil manusia, dan bisa menyeret manusia pada jurang kesesatan atau lingkaran setan.

4. Transaksi Jelas

Untuk itu, prinsip ekonomi dalam islam juga sangat memegang pada kejelasan transaksi dan tak bergantung kepada nasib yang tak jelas, apalagi harus melalaikan ikhtiar dan kerja keras.

Kemudian, pada surat Al Jumuah ayat ke-10 berbunyi “Jika telah ditunaikan shalat, maka bertebaran kamu di muka bumi dan cari karunia Allah serta ingat Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Allah SWT pun telah memberikan perintah pada manusia untuk bisa optimalkan dan cari karunia Allah SWT di muka bumi. Hal yang satu ini seperti optimalkan hasil bumi, baik mengenai hubungan transaksi dengan manusia. Untuk itu, apabila manusia hanya andalkan hasil ekonomi dari sesuatu yang tak jelas atau seperti halnya judi, maka tak akan optimal.

Padahal, ada sangat banyak sekali karunia dan rezeki dari Allah SWT yang ada di muka bumi ini. Tentunya, hal tersebut akan membuatnya menghasilkan berkah dan limpahan nikmat, terutama jika benar-benar dioptimalkan.

5. Optimalkan Sumber Daya

Untuk itu, dalam hal ekonomi pun, dari definisi ekonomi Islam sampai prinsipnya adalah jangan sampai manusia tak mengoptimalkan atau biarkan apa yang telah Allah SWT berikan di muka bumi. Hal ini pun agar tak dibiarkan begitu saja. Nikmat dan rezeki Allah SWT dalam hal ekonomi akan melimpah apabila manusia bisa mencari dan mengelola dengan baik.

Hai orang-orang yang punya iman, bertakwalah kepada Allah SWT dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut apabila kamu orang-orang yang beriman, dari surah Al-Baqarah : 278.

6. Anti Riba

Kemudian, prinsip Islam pada ekonomi yang lain adalah larangan riba. Riba sendiri adalah tambahan yang diberikan atas hutang atau transaksi ekonomi lainnya. Orientasi pun bisa saja mencekik para peminjam dana. Yang terkhusus adalah orang yang tak mampu. Allah SWT pun telah melaknat jika akan dimasukkan ke dalam neraka bagi mereka yang pakai riba.

7. Tertata Rapi

Kemudian, transaksi keuangan yang diperintahkan islam adalah transaksi keuangan yang tercatat dengan baik. Segala transaksi di dalam Islam diperintahkan untuk dicatat dan ditulis di atas hitam dan putih, bahkan harus ada saksi. Di dalam zaman modern ini, maka ilmu akuntansi tentu harus digunakan di dalam aspek ekonomi.

Hal ini tentu saja bisa untuk menghindari konflik dan masalahan di kemudian hari. Manusia pun bisa saja lupa serta lalai, untuk itu masalah ekonomi juga harus benar-benar tercatat dengan baik.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan di dalam surat Al Baqarah ayat 282, “Hai orang-orang yang beriman, apabila bermu’amalah tidak secara tunai tentu untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskan. Dan hendaklah seseorang penulis di antara kamu menulis dengan benar,”

8. Adil

Dalam surat Al Isra ayat 35, Allah berfirman “Dan sempurnakan takaran apabila kamu menakar, dan timbang pakai neraca yang benar. Itu yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”

Allah pun memerintahkan manusia saat melaksanakan perniagaan, maka harus adil dan seimbang. Hal ini pun jadi dasar untuk ekonomi di dalam Islam. Kemudian, perniagaan harus sesuai dengan neraca yang dipakai, transaksi keuangan yang dipakai, dan juga standar ekonomi yang diberlakukan.

Jangan sampai, saat transaksi anda membohongi, melakukan penipuan, atau menutupi kekurangan dari yang ditransaksikan. Tentu saja, semuanya akan diminta tanggung jawabnya oleh Allah SWT.

Hukum Ekonomi Islam

Dalam hal ini, tentu saja masalah ekonomi pun juga harus diatur agar tak ada kesenjangan sosial, kemudian ada masalah entah beda kelas sosial yang tinggi, atau tak adil ekonomi yang bisa akibat pada miskinan atau ketidakberdayaan manusia.

Untuk itu, salah satu ajaran islam dan makalah ekonomi Islam mengantarkan manusia untuk juga mengarahkan aktivitas ekonominya sesuai dengan prinsip-prinsip dasar dan ajaran islam mengenai hal ekonomi. Islam adalah agama yang berorientasi kepada kebaikan manusia. Islam ajarkan manusia mengedepankan keadilan, keseimbangan dan juga kesejahteraan.

Islam tidak mengajarkan pada kesenjangan sosial, prinsip siapa cepat siapa menang, atau pada kekuasaan hanya dalam satu kelompok atau orang tertentu saja. Prinsip ini pun diajarkan islam dalam hal ekonomi. Dalam hal ekonomi, islam pun ikut mengatur dan berikan arahan atau pencerahan agar umat manusia tak terjebak ekonomi yang salah atau keliru.

Aturan-aturan islam mengenai ekonomi diantaranya seperti, masalah kewajiban zakat, infaq, shodaqoh. Kemudian ada larangan judi dan mengundi nasib dengan panah. Kewajiban dalam membayar pajak, lalu menjual dengan neraca yang adil, kemudian membuat catatan keuangan dan lain sebagainya.

Ekonomi basis islam tentunya sangat berbeda dengan ekonomi yang mengarah kepada prinsip kapitalisme atau liberalisme. Ekonomi basis islam bertujuan agar dapat terpenuhinya kebutuhan manusia, bukan hanya satu orang saja melainkan seluruh umat manusia secara keseluruhan agar dapat hidup berkualitas dan menunanaikan ibadah dengan baik.

Sedangkan prinsip liberalisme atau kapitalisme hanya berdasarkan kepada pemilik modal, pasar bebas, dan tidak berpihaknya pada masyarakat lemah atau kurang mampu.

 

Baca Juga : Pelaku Ekonomi : Pengertian, Macam, Peran, dan Diagram Interaksinya