Serba-Serbi Asuransi Syariah Yang Harus Anda Ketahui

7 min read

asuransi syariah

Asuransi dikenal sebagai sebuah sistem yang bermanfaat untuk memberikan perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun menawarkan beragam keuntungan, ada pendapat yang menyatakan bahwa hukum asuransi adalah haram. Sebagai solusi, asuransi syariah hadir untuk memberikan perlindungan terhadap kaum muslimin dengan akad-akad sesuai syariat.

Seiring meningkatnya trend bisnis berbasis syariah seperti bank syariah, asuransi berbasis syariah seolah menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai isu-isu tentang asuransi konvensional yang dipandang haram karena transaksi dan akad yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Bagaimana sistem kerja asuransi berbasis syariah tersebut? Simak penjelasan lengkap artikel Jurnal Manajemen berikut ini.

Pengertian Asuransi Syariah

Dewan Syariah Nasional memberikan definisi mengenai asuransi berbasis syariah. Menurut lembaga tersebut, Asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi serta tolong menolong antara sejumlah orang. Hal ini dilakukan dengan cara investasi yang berbentuk aset dengan pola pengembalian untuk resiko tertentu melalui akad sesuai dengan syariat Islam.

Sistem yang digunakan oleh asuransi berbasis syariah adalah para peserta memberikan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk pembayaran klaim apabila ada peserta yang mendapat musibah. Dapat dikatakan bahwa pihak asuransi berperan sebagai pengelola dana investasi yang diberikan oleh nasabah atau peserta.

Asuransi syariah di Indonesia telah banyak tersedia guna memfasilitasi kaum muslimin yang enggan menggunakan asuransi konvensional. Perusahaan asuransi tersebut menawarkan berbagai jenis produk mulai dari asuransi jiwa, kesehatan, hingga kendaraan. Berikut ini garis besar perbedaan produk asuransi berbasis syariah dengan asuransi konvensional.

  1. Asuransi Jiwa

Sebagaimana asuransi konvensional, asuransi berbasis syariah juga menawarkan produk berupa asuransi jiwa syariah. Pada prinsipnya, produk asuransi ini menggunakan sistem tabarru’ sesuai dengan syariah. Tidak ada pihak yang dirugikan, baik dari pihak nasabah maupun perusahaan asuransi.

Cara kerja asuransi jiwa Islami ini adalah peserta menyetorkan sejumlah dana yang disebut sebagai dana tabarru’. Apabila ada peserta lain yang mengalami musibah, maka penyetor harus ikhlas untuk memberikan dana tersebut pada peserta yang mendapatkan musibah. Untuk lebih memahami konsep ini, simak contoh kasus berikut.

Seorang peserta asuransi jiwa berbasis syariah meninggal dunia di dalam masa perjanjian. Perusahaan asuransi menghubungi ahli waris untuk menyerahkan dana santunan yang diambil dari dana tabarru’. Jumlah yang diberikan sesuai dengan kesepakatan awal antara peserta dengan perusahaan asuransi tersebut.

Namun apabila peserta tersebut masih berumur panjang hingga masa perjanjian berakhir, maka peserta akan mendapatkan dana bagi hasil. Jumlahnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Selama masa perjanjian, perusahaan bertanggungjawab mengelola dana tabarru’ dengan persetujuan dari peserta asuransi. Persetujuan tersebut menjadi syarat sebelum perusahaan mengelola dana.

Lain halnya dengan asuransi jiwa konvensional, peserta harus membayar premi bulanan atau tahunan sesuai dengan kesepakatan dengan perusahaan. Dana yang diserahkan oleh peserta akan dikelola oleh perusahaan, sedangkan keuntungan yang didapat menjadi milik asuransi. Apabila peserta meninggal dunia, maka dana yang dibayarkan diambil dari perusahaan asuransi tersebut.

  1. Asuransi Kesehatan

Salah satu produk yang tak kalah menarik dari asuransi berbasis syariah adalah asuransi kesehatan syariah. Produk asuransi ini juga menggunakan prinsip tolong menolong, tidak seperti asuransi konvensional yang Anda kenal sebelumnya. Dibandingkan dengan asuransi kesehatan konvensional, asuransi berbasis syariah memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh.

Asuransi Kesehatan ini menawarkan proteksi kepada seluruh anggota keluarga. Meskipun nama yang tertulis hanya nama kepala keluarga, namun manfaat dari asuransi bisa dirasakan oleh seluruh anggota keluarga ketika mengalami sakit.

  1. Asuransi Kendaraan

Kini perlindungan berbasis syariah juga bisa digunakan untuk kendaraan Anda. Dengan adanya produk asuransi mobil syariah, Anda bisa berkendara dengan lebih tenang. Asuransi ini menggunakan asas tolong menolong dengan dana tabarru’ serta konsep hibah apabila Anda peserta yang mengalami kecelakaan.

Tidak seperti asuransi kendaraan konvensional, kepemilikan dana pada asuransi kendaraan berbasis syariah merupakan milik bersama. Perusahaan asuransi harus mendapatkan izin dari peserta sebelum mengelola dana. Selain itu, proses pengelolaan juga harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip Islami dan menghindarkan dari transaksi maksiat.

 

Baca Juga : Asuransi Pendidikan Anak Terbaik di Indonesia

 

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Seiring berjalannya waktu, asuransi berbasis syariah mampu menyaingi keberadaan asuransi konvensional. Dengan kelebihan serta kekurangan yang dimiliki, nyatanya tidak sedikit nasabah yang mulai beralih dari sistem konvensional ke sistem berbasis syariah. Lantas apa saja perbedaan antara asuransi konvensional dengan asuransi berbasis syariah?

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masing-masing jenis asuransi, simak perbedaan berikut ini:

  • Pengelolaan Resiko

Secara garis besar, asas asuransi berbasis syariah adalah tolong menolong. Sekelompok orang akan mengumpulkan dana yang disebut dengan tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Dana tersebut akan diberikan kepada peserta yang mengalami musibah sesuai dengan jumlah yang disepakai sebelumnya.

Berdasarkan asas tersebut, dapat disimpulkan bahwa asuransi berbasis syariah menggunakan prinsip berbagi resiko atau sharing of risk. Resiko tidak hanya dibebankan kepada perusahaan atau peserta, namun kedua belah pihak. Dengan demikian, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kesepakatan tersebut.

Sementara itu, asuransi konvensional menggunakan prinsip transfer of risk atau memindahkan resiko. Resiko yang ditanggung oleh peserta dipindahkan kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan yang berlaku, baik dalam hal kesehatan, jiwa, maupun kendaraan.

  • Pengelolaan Dana

Dalam asuransi berbasis syariah, dana yang terkumpul akan dikelola secara transparan. Peserta dan perusahaan akan menikmati hasil pengelolaan dana dengan sistem bagi hasil. Dengan demikia, keuntungan dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.

Selain itu, asuransi berbasis syariah juga harus memperoleh izin dari peserta sebelum mengelola dana. Apabila telah diizinkan, maka perusahaan boleh mengelola dana tersebut. Penting untuk diperhatikan, dana harus dikelola dengan cara yang sesuai syariat Islam dan tidak boleh dipergunakan untuk usaha-usaha yang bertentangan dengan hukum Islam seperti perjudian atau riba.

Di sisi lain, asuransi konvensional menentukan jumlah premi serta biaya lain yang harus dibayarkan oleh peserta. Perusahaan menentukan secara sepihak untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan mungkin mengakibatkan kerugian di pihak peserta. Dalam mengelola dana, perusahaan dapat menempuh cara apapun agar mendapatkan keuntungan yang besar dari investasi tersebut.

  • Sistem Perjanjian

Perbedaan lain juga terletak pada sistem perjanjian. Dalam makalah asuransi syariah disebutkan bahwa asuransi Islami ini menggunakan akad hibah atau tabarru’ serta menggunakan sistem syariah. Sementara itu, asuransi konvensional menggunakan akad yang cenderung serupa dengan akad jual beli.

  • Wajib Zakat

Asuransi dengan sistem syariah mewajibkan setiap peserta untuk membayar zakat dengan jumlah yang disesuaikan dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Hal semacam ini tidak dijumpai dalam asuransi konvensional.

  • Pengawasan

Dalam mengawasi kinerja asuransi berbasis syariah, Dewan Syariah Nasional serta Majelis Ulama Indonesia turut serta dalam proses pengawasan tersebut. Kedua lembaga mengawasi secara ketat sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, perusahaan asuransi tetap berada dalam jalur prinsip ekonomi syariah.

Sedangkan hal ini tidak berlaku pada asuransi konvensional. DSN dan MUI tidak melakukan pengawasan sehingga perusahaan dapat menjalankan berbagai sistem transaksi meskipun tidak sesuai dengan hukum-hukum Islam.

Prinsip Asuransi Syariah

Dalam menjalankan tugasnya, asuransi berbasis syariah harus memperhatikan berbagai faktor agar tidak menyimpang dari koridor yang telah ditentukan. Dalam hal ini, asuransi harus mengikuti prinsip-prinsip yang sesuai dengan konsep Islami. Berikut ini beberapa prinsip yang diterapkan oleh asuransi berbasis syariah:

  1. Prinsip Tauhid

Prinsip ini menjadi landasan utama perusahaan asuransi. Dengan prinsip tersebut, perusahaan harus memahami bahwa asuransi tidak bertujuan semata-mata untuk mencari keuntungan tetapi untuk menegakkan syariat Islam.

  1. Prinsip Tolong-Menolong

Asuransi berbasis syariah harus memegang prinsip tolong-menolong, di mana sesama nasabah wajib memberikan kontribusi untuk membantu nasabah lain yang sedang ditimpa musibah. Dalam hal ini perusahaan bertindak sebagai pengelola dana.

  1. Prinsip Keadilan

Prinsip ini dicerminkan dari sistem bagi hasil serta sharing of risk yang diterapkan. Dengan kata lain, baik pihak perusahaan maupun pihak peserta tidak ada yang dirugikan. Apabila mendapat keuntungan dari pengelolaan dana, maka hasil keuntungan tersebut dibagi dua.

  1. Prinsip Amanah

Perusahaan asuransi menerima amanah dari peserta untuk mengelola dana. Proses pengelolaan dana harus dilakukan dengan cara yang sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, perusahaan dituntut untuk amanah dalam mengelola dana. Di sisi lain, peserta juga harus bersikap jujur dan amanah dengan tidak mengajukan klaim apabila tidak tertimpa musibah sesuai perjanjian.

  1. Prinsip Saling Ridha

Ketika bergabung dengan asuransi berbasis syariah, peserta harus rela memberikan dana untuk dikelola oleh perusahaan. Apabila ada peserta lain yang mengalami musibah, peserta juga harus ikhlas untuk memberikan dana tersebut. Prinsip inilah yang menjadi landasan prinsip tolong-menolong.

Hukum Asuransi Syariah

Pada dasarnya Islam mengharamkan asuransi, baik itu asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan sistem yang digunakan oleh perusahaan asuransi konvensional bertentangan dengan hukum Islam, misalnya gharar (ketidakjelasan), riba, serta mengambil harta orang lain.

Lain halnya dengan asuransi syariah. Apabila perusahaan berpegang teguh pada syariat Islam, maka akan terjadi perbedaan sistem yang digunakan. Asuransi berbasis syariah yang menghindari beberapa unsur keharaman seperti yang dijelaskan di atas maka diperbolehkan.

Sebagai contoh, perusahaan asuransi menggunakan prinsip ta’awun atau tolong-menolong di mana sekelompok orang mengumpulkan dana kemudian memberikan dana tersebut kepada anggota yang membutuhka. Dengan niat tulus untuk menolong dan tidak mencari keuntungan, maka hal ini diperbolehkan menurut hukum Islam.

Adapun perusahaan asuransi di Indonesia, meskipun berbasis syariah, terkadang ditemukan praktik-praktik yang kurang sesuai dengan prinsip Islam. Contohnya, dalam kurun waktu tertentu apabila tidak terjadi musibah maka perusahaan tidak mengembalikan uang nasabah. Atau, perusahaan mengembalikan dana sama atau lebih besar dari yang dibayarkan oleh nasabah yang mana ini termasuk pada unsur ribawi.

Dari penjelasan di atas, asuransi berbasis syariah diperbolehkan dalam Islam dengan catatan asuransi tersebut mempunyai niat murni untuk menolong dan bukan mencari keuntungan. Beberapa praktik yang tidak sesuai dengan syariat juga harus benar-benar dihilangkan sehingga asuransi tersebut bisa memberikan ketenangan bagi nasabah kaum muslimin.

Akad Asuransi Syariah

Tidak seperti asuransi konvensional yang menggunakan akad jual beli, asuransi berbasis syariah menggunakan akad yang sesuai dengan syariat Islam. Ketika mempelajari materi asuransi syariah, Anda akan menemukan beberapa akad yang digunakan dalam asuransi Islami. Akad tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Akad Tabarru’

Tabarru’ mempunyai arti sumbangan atau derma. Dengan akad ini, peserta memberikan dana secara ikhlas untuk membantu anggota lain yang tertimpa musibah. Dana yang disetorkan oleh peserta akan disimpan di rekening dana tabarru’ yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Yang ditekankan dari akad ini adalah sumbangan secara ikhlas dengan tujuan untuk menolong karena Allah.

  • Akad Tijarah Atau Mudharabah

Akad mudharabah menggunakan prinsip profit and loss sharing, dimana perusahaan asuransi dan peserta berbagi untung dan rugi. Dengan akad ini, perusahaan akan menginvestasikan dana yang terkumpul dan resiko akan ditanggung bersama oleh perusahaan dan nasabah. Hasil keuntungan yang diperoleh akan dibagikan kepada peserta sesuai dengan akad yang dibuat.

Adapun kesepakatan bagi hasil dilakukan di awal sehingga kedua belah pihak harus mengikuti kesepakatan tersebut. Sebagai contoh, bagi hasil menggunakan sistem 60:40 di mana nasabah memperoleh 60% dari keuntungan sementara perusahaan mendapatkan 40%.

  • Akad Wakalah Bil Ujrah

Akad ini merupakan ikatan antara perusahaan asuransi dan nasabah di mana nasabah memberikan kuasa kepada perusahaan sebagai wakil untuk menjalankan tugas. Dalam akad ini, kedua belah pihak tidak boleh membatalkan secara sepihak.

Produk Asuransi Syariah

Sebagaimana asuransi konvensional, asuransi berbasis syariah menghadirkan berbagai produk bagi para nasabah. Dalam berbagai jurnal asuransi syariah, asuransi berbasis syariah mempunyai produk yang beragam mulai dari proteksi jiwa, kesehatan, hingga properti. Produk-produk tersebut secara garis besar terbagi menjadi 3, yaitu takaful individu, takaful group dan takaful umum.

  1. Takaful Individu

Produk asuransi yang satu ini memberikan proteksi yang bersifat pribadi. Takaful individu terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain takaful dana investasi, dana siswa, dana haji, dan dana jabatan. Setiap jenis takaful atau asuransi memberikan perlindungan kepada nasabah sesuai dengan syariat Islam. Sebagai contoh, takaful dana siswa memberikan jaminan pendidikan dengan jenjang waktu yang bervariasi.

  1. Takaful Group

Takaful group merupakan produk asuransi yang memberikan proteksi untuk individu dan kelompok. Terdapat beberapa jenis takaful group, yaitu takaful tabungan haji, takaful wisata, takaful kecelakaan siswa, dan takaful kecelakaan group. Jenis takaful ini biasanya digunakan pada perusahaan atau kelompok tertentu.

  1. Takaful Umum

Produk asuransi berbasis syariah ini memberikan proteksi pada hal-hal yang bersifat umum seperti takaful kendaraan, takaful kebakaran, takaful pengangkutan, dan lain sebagainya.

Contoh Asuransi Syariah

Di Indonesia, terdapat banyak perusahaan yang menawarkan asuransi berbasis syariah. Berbagai perusahaan asuransi tersebut mempunyai produk-produk yang berbeda, meskipun pada dasarnya objek yang diproteksi sama.

Sebagai contoh, Asuransi Prudential yang pada awal berdirinya merupakan asuransi konvensional kini telah menyediakan Prudential Syariah untuk menjawab kegelisahan kaum muslimin akan hukum asuransi konvensional. Atau, Anda juga bisa menemukan Allianz Syariah yang menawarkan proteksi beragam mulai dari jiwa, kesehatan, rumah, tabungan haji, dan lain sebagainya.

Contoh lain dari asuransi berbasis syariah di Indonesia adalah Manulife Syariah yang menawarkan sistemm kartu untuk memudahkan nasabah dalam pembayaran maupun klaim. Manulife menghadirkan beberapa produk seperti Manulife Berkah Crisis Cover Protection, Berkah Medicare Plus, Berkah Income Replacement, dan lain-lain.

Asuransi Takaful merupakan perusahaan asuransi yang paling tua sehingga kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan Dewan Pengawas Syariah mengawasi secara langsung atas kinerja perusahaan tersebut. Tidak heran jika Asuransi Takaful menjadi asuransi syariah yang direkomendasikan.

Baca Juga : Produk Asuransi Sinar Mas : Profil, Jenis, Syariah, dan Cara Klaim